Tampilkan postingan dengan label Cerita Dewasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Dewasa. Tampilkan semua postingan

Cerita Dewasa : Bercumbu Dengan Model Cantik

Bercumbu Dengan Model Cantik


"Aha... Koran baru sudah datang", kataku dalam hati melihat surat kabar pagi terbitan hari ini tergeletak di dekat pintu pagar. Kuambil surat kabar itu. Langsung aku duduk di kursi di teras sambil membacanya. Sebagai mahasiswa fakultas ekonomi aku sangat menyukai berita-berita tentang perekonomian Indonesia termasuk krisis ekonomi berkepanjangan yang tengah melanda Indonesia. Kubolak-balik halaman-halaman surat kabar. Mataku tertumbuk pada sebuah iklan satu kolom yang cukup mencolok.

"Dicari, gadis berusia 17 sampai 25 tahun. Wajah dan penampilan menarik. Bertubuh ramping. Tinggi minimal 165 cm dengan berat yang sesuai. Dapat bergaya. Berminat untuk menjadi foto model. Peminat diharapkan datang sendiri ke **** (edited) Agency, Jl. Cempaka Putih **** (edited), Jakarta Pusat."

"Aku bisa diterima apa nggak ya?" Aku bertanya dalam hati. Memang sih, kupikir-pikir aku memenuhi syarat-syarat yang diminta. Usiaku baru menginjak 20 tahun. Tubuhku ramping dengan tinggi 170 cm, seimbang dengan ukuran dadaku yang di atas rata-rata wanita seusiaku. Wajahku cantik. Teman-temanku bilang aku perpaduan antara Desy Ratnasari dan Maudy Kusnadi. Tapi menurutku sih mereka terlalu memujiku berlebih-lebihan.

Ah, coba-coba saja aku melamar. Siapa tahu aku diterima jadi foto model. Kan lumayan buat menambah penghasilan. Aku masuk ke dalam rumah, ke kamarku. "Pakai baju apa ya enaknya?" batinku. Ah ini saja. Kukenakan blus biru muda dan celana panjang jeans belel yang cukup ketat yang baru saja beberapa hari yang silam kubeli di Cihampelas, Bandung.

Mobil Feroza yang kukendarai memasuki jalan yang disebut dalam iklan. Ah, mana ya nomor **** (edited)? Nah ini dia. Rumahnya sih cukup mentereng. Di halamannya terpampang papan nama "**** (edited) Agency Photo Studio & Modelling. Menerima anggota baru." Wah benar ini tempatnya. Kuparkir mobilku di pinggir jalan. Di sana sudah banyak bertengger mobil-mobil lain. Aku masuk ke dalam. Astaga! Di dalam sudah banyak cewek-cewek cantik. Pasti mereka juga adalah pelamar sepertiku. Sejenak mereka memandangku ketika aku masuk. Mungkin mereka kagum melihat kecantikan wajahku dan kemolekan tubuhku. Kucari tempat duduk yang kosong setelah sebelumnya mendaftarkan diriku di meja pendaftaran.

Gila, hampir semua tempat duduk terisi. Nah, itu dia ada satu yang kosong di sebelah seorang cewek yang cantik sekali, keturunan Indo. Wajahnya mirip Cindy Crawford. Kelihatannya ia sebaya denganku. Tapi astaga, ia memakai baju yang berdada rendah alias "you can see," dan rok jeans mini yang cukup ketat, sehingga menampakkan pangkal payudaranya yang berukuran cukup besar. Ia nampak memandangku dan tersenyum. Melihatnya aku menjadi minder. Wah, sainganku ini top sekali. Apakah mungkin aku terpilih menjadi foto model di sini? Satu persatu para pelamar dipanggil ke ruang pengetesan, sampai si Indo di sampingku tadi dipanggil juga. Semua pelamar yang sudah dites keluar lewat pintu lain. Akhirnya namaku dipanggil juga.

"Hanny K**** (edited) dipersilakan masuk ke dalam."
Aku pun masuk ke dalam dan disambut oleh seorang pria bertubuh agak gemuk.
"Kenalkan aku Adolf, direktur sekaligus pemilik agensi ini. Siapa nama kamu tadi? Oh ya, Hanny, nama yang bagus, sebagus orangnya. Sekarang giliran kamu dites. Coba kamu berdiri di sana."
Aku pun menurut saja dan menuju tempat yang ditunjuk oleh Adolf, di bawah lampu sorot yang cukup terang dan di depan sebuah kamera foto.
"Coba kamu lihat-lihat contoh-contoh foto ini. Pilih lima gaya di antaranya. Aku akan mengetes apakah kamu bisa bergaya. Jangan malu-malu, don't be shy!" kata Adolf sembari memberiku sebuah album foto. Aku melihat foto-foto di dalamnya. Ah ini sih seperti gaya foto model di majalah-majalah! Mudah amat! Lalu aku memilih lima gaya yang menurutku bagus. Setelah itu, jepret sana, jepret sini, lima gaya sudah aku berpose dan dipotret. Tapi Adolf belum mempersilakan aku keluar ruangan. Dia kelihatannya seperti berpikir sejenak.

"Nah, sekarang, Han. Coba kamu buka kancing-kancing bagian atas blus kamu. Nggak usah malu. Biasa-biasa aja lah!"
Kupikir tak apa-apa lah kali ini. Kubuka beberapa kancing atas blusku sehingga terlihat BH yang kupakai. Mata Adolf sekilas berubah saat melihat pangkal payudaraku yang montok. Lalu aku dipotret lagi dengan pose-pose yang sensual.
"Nah, begitu kan yahud. Sekarang coba buka baju kamu semuanya."
Wah! Ini sih mulai kelewatan!
"Ayolah, jangan malu-malu!"
Sebenarnya dalam hati aku menolak. Akan tetapi biarlah, karena aku sejak kecil selalu mengidam-idamkan ingin menjadi foto model.

Dengan perlahan-lahan kutanggalkan blus dan celana panjangku. Mata Adolf tanpa berkedip memandangi tubuh mulusku yang hanya ditutupi oleh BH dan celana dalam. Aku sedikit menggigil kedinginan hanya berpakaian dalam di ruangan yang ber-AC ini. Namun Adolf tidak mengindahkannya. Ia malah menyuruhku menanggalkan busana yang masih tersisa di tubuhku. Ah, gila ini! Tapi cueklah, hanya berdua ini! Lalu dengan membelakangi Adolf, kulepas BH-ku. Kusilangkan tanganku di dada menutupi payudaraku.

"Han, masak kamu balik badan begitu. Bagaimana aku bisa mengetesmu."
Aku membalikkan tubuh menghadap Adolf. Adolf menyuruhku menurunkan tangan yang menutupi payudaraku. Adolf terpana menyaksikan payudaraku yang montok dan berisi dengan puting susunya yang tinggi menantang berwarna kecoklatan segar, tanpa tertutup oleh selembar benang pun. Aku menjadi risih pada pandangan matanya. Adolf menyuruhku melepas celana dalamku. Ia semakin melotot melihat bagian kemaluanku yang ditumbuhi oleh rambut-rambut halus yang masih tipis. Sekilas kulihat kemaluan di balik celana panjangnya menegang.

"Nah, sekarang kamu diam di situ. Akan kuukur tubuhmu, apakah memenuhi syarat", kata Adolf sambil mengambil meteran untuk menjahit. Pertama kali dia mengukur ukuran vital dadaku. Ia melingkarkan meterannya melalui payudaraku. Dengan sengaja tangan Adolf menyentil puting susuku sebelah kanan sehingga membuatku meringis kesakitan. Tapi aku diam merengut saja.

"Kamu beruntung memiliki payudara yang indah seperti ini", kata Adolf sambil mencolek belahan payudaraku.
"Nah, sudah selesai sekarang." Aku merasa lega. Akhirnya selesailah pelecehan seksual yang terpaksa kuterima ini.
"Jadi saya sudah boleh keluar?" tanyaku.
"Eit! Siapa bilang kamu sudah boleh keluar?! Nanti dulu, manis!"
Wah, kacau! Apa gerangan yang ia inginkan lagi?
"Susan!" Adolf memanggil seseorang.
Seorang gadis cantik keluar dari ruangan lain, telanjang bulat. Ya ampun, ternyata ia adalah cewek Indo yang tadi duduk di sampingku di ruang tunggu. Payudaranya yang montok bergantung indah di dadanya, seimbang dengan pinggulnya yang montok pula. Aku bertanya-tanya apa arti dari semua ini.

"Nah, sekarang coba kamu lihat, Hanny. Susan ini adalah satu-satunya pelamar yang berhasil terpilih. Mengapa? Sebab ia cocok dengan profil foto model yang saya inginkan untuk proyek kalender bugil yang akan saya edarkan di luar negeri. Kalo kamu ingin berhasil seperti Susan, kamu harus berani seperti dia, Han", kata Adolf sambil menunjuk ke arah gadis cantik yang bugil itu. Astaga! Batinku. Aku harus dipotret bugil. Bagaimana pandangan orang-orang terhadapku nanti apabila foto-foto telanjangku sampai dilihat orang-orang banyak?! Tapi kan cuma diedarkan di luar negeri?!

"Baiklah, tapi kali ini aja ya", aku menyanggupinya. Akhirnya aku dipotret dalam beberapa pose. Pose yang pertama, aku disuruh berbaring tertelentang dengan pose memanjang di atas ranjang, dengan membuka pahaku lebar-lebar, sehingga menampakkan kemaluanku dengan jelas. Pose kedua, aku duduk mengangkang di tepi ranjang sementara Susan menjilati liang kemaluanku. Pose ketiga, aku dalam keadaan berdiri, sedangkan Susan dengan lidahnya yang mahir mempermainkan puting susuku. Pose keempat, aku masih berdiri, sementara Susan berdiri di belakangku dan berbuat seolah-oleh kami berdua sedang bersenggama. Susan berperan sebagai seorang pria yang sedang menghujamkan batang kemaluannya ke dalam liang kewanitaanku, sedangkan tangannya meremas-remas kedua belah payudaraku yang indah. Dan aku diminta memejamkan mataku, seakan-akan aku sedang terbuai oleh kenikmatan yang tiada taranya. Semua itu adalah pose-pose yang membangkitkan nafsu birahi bagi kaum pria namun amat memuakkan bagi diriku.

Tiba-tiba kurasakan kedua belah payudaraku diremas-remas dengan lebih keras, bahkan lebih kasar. Aku meronta-ronta kesakitan. Aku menoleh ke belakang. Astaga! Ternyata yang di belakangku sudah bukan Susan lagi, melainkan Adolf yang sekarang tengah mempermainkan payudaraku dengan seenaknya! Entah Susan sudah ke mana perginya.

"Jangan, Pak! Jangan!" Aku memberontak-berontak sebisa-bisanya. Tapi semua itu tidak ada hasilnya. Tangan Adolf lebih kuat mendekapku kencang-kencang sampai aku hampir tidak bisa bernafas.
"Kamu memang benar-benar cantik, Hanny", kata Adolf sambil mencium tengkukku sementara tangannya masih terus merambah kedua bukit yang membusung di dadaku.

Tiba-tiba dengan kasar, Adolf mendorongku, sehingga aku jatuh tertelentang di sofa. Melihat tubuh mulusku yang sudah tergeletak pasrah di depannya, nafas Adolf memburu bagai dikejar setan. Matanya melotot seperti mau meloncat keluar melihat keindahan tubuh di depannya. Kututup payudaraku dengan tanganku, tapi Adolf menepiskannya. Betapa belahan payudaraku sangat lembut dan merangsang ketika mulut Adolf mulai menjamahnya. Payudaraku yang putih bersih itu memang menggiurkan. Mulut Adolf dengan buas menjilat dan melumat bagian puncak payudaraku, lalu mengisap puting susuku bergantian, sehingga aku menggelinjang kegelian. Nafasku ikut memburu kala tangan Adolf mulai merayap ke selangkanganku, meraba-raba pahaku dari pangkal sampai lutut. Lalu betisku yang mulus itu.

Aku hampir-hampir tak bisa bernafas lagi ketika mulut Adolf terus mengisap dan menyedot puting susuku. Aku meronta-ronta. Tapi Adolf terus mendesak dan melumat puting susuku yang runcing kemerahan itu. Seumur hidupku, belum pernah aku diperlakukan sedemikian lupa oleh lelaki manapun, dan kini aku harus menyerahkan diriku pada Adolf.

Adolf mencoba mendorong batang kemaluannya masuk ke dalam liang senggamaku yang sempit. Ia sudah tak kuat lagi membendung nafsunya yang memuncak ketika batang kemaluannya bergesekan dengan liang kewanitaanku yang merah terbuka. Batang kemaluan Adolf akhirnya menghujam seluruhnya ke dalam liang kenikmatanku. Aku menjerit ketika liang kewanitaanku diterobos oleh batang kemaluan Adolf yang tegang dan panjang. Betapa perih ketika "kepala meriam" itu terus masuk ke dalam liang kewanitaanku, yang belum pernah sekalipun merasakan jamahan laki-laki.

Aku mencoba memberontak sekuat tenaga lagi. Tapi apa daya, Adolf lebih kuat. Lagipula aku sudah lemas, tenagaku sudah hampir habis. Terpaksa aku hanya dapat menerima dengan pasrah digagahi oleh Adolf. Dan akhirnya, aku merasa tak kuat lagi. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi. Aku tak sadarkan diri.

Saat aku siuman, aku menyadari diriku masih tergeletak telanjang bulat di sofa dengan cairan-cairan kenikmatan yang ditembakkan dari batang kemaluan Adolf berhamburan di sekujur perut dan dadaku. Sementara kulihat ruangan itu telah kosong. Segera kukenakan pakaianku kembali dan bergegas ke luar ruangan. Kukebut Feroza-ku pulang ke rumah dan bersumpah tak akan pernah kembali lagi ke tempat terkutuk itu!
Baca Selengkapnya »»

Cerita Dewasa : Menikmati Tubuh Janda Kembang



Telah belasan tahun berpraktek aku di kawasan kumuh ibu kota, tepatnya di kawasan Pelabuhan Rakyat di Jakarta Barat. Pasienku lumayan banyak, namun rata-rata dari kelas menengah ke bawah. Jadi sekalipun telah belasan tahun aku berpraktek dengan jumlah pasien lumayan, aku tetap saja tidak berani membina rumah tangga, sebab aku benar-benar ingin membahagiakan isteriku, bila aku memilikinya kelak, dan kebahagiaan dapat dengan mudah dicapai bila kantongku tebal, simpananku banyak di bank dan rumahku besar.

Namun aku tidak pernah mengeluh akan keadaanku ini. Aku tidak ingin membanding-bandingkan diriku pada Dr. Susilo yang ahli bedah, atau Dr. Hartoyo yang spesialis kandungan, sekalipun mereka dulu waktu masih sama-sama kuliah di fakultas kedokteran sering aku bantu dalam menghadapi ujian. Mereka adalah bintang kedokteran yang sangat cemerlang di bumi pertiwi, bukan hanya ketenaran nama, juga kekayaan yang tampak dari Baby Benz, Toyota Land Cruiser, Pondok Indah, Permata Hijau, Bukit Sentul dll.

Dengan pekerjaanku yang melayani masyarakat kelas bawah, yang sangat memerlukan pelayanan kesehatan yang terjangkau, aku memperoleh kepuasan secara batiniah, karena aku dapat melayani sesama dengan baik. Namun, dibalik itu, aku pun memperoleh kepuasan yang amat sangat di bidang non materi lainnya.

Suatu malam hari, aku diminta mengunjungi pasien yang katanya sedang sakit parah di rumahnya. Seperti biasa, aku mengunjunginya setelah aku menutup praktek pada sekitar setengah sepuluh malam. Ternyata sakitnya sebenarnya tidaklah parah bila ditinjau dari kacamata kedokteran, hanya flu berat disertai kurang darah, jadi dengan suntikan dan obat yang biasa aku sediakan bagi mereka yang kesusahan memperoleh obat malam malam, si ibu dapat di ringankan penyakitnya.

Saat aku mau meninggalkan rumah si ibu, ternyata tanggul di tepi sungai jebol, dan air bah menerjang, hingga mobil kijang bututku serta merta terbenam sampai setinggi kurang lebih 50 senti dan mematikan mesin yang sempat hidup sebentar. Air di mana-mana, dan aku pun membantu keluarga si ibu untuk mengungsi ke atas, karena kebetulan rumah petaknya terdiri dari 2 lantai dan di lantai atas ada kamar kecil satu-satunya tempat anak gadis si ibu tinggal.

Karena tidak ada kemungkinan untuk pulang, maka si Ibu menawarkan aku untuk menginap sampai air surut. Di kamar yang sempit itu, si ibu segera tertidur dengan pulasnya, dan tinggallah aku berduaan dengan anak si ibu, yang ternyata dalam sinar remang-remang, tampak manis sekali, maklum, umurnya aku perkirakan baru sekitar awal dua puluhan.

“Pak dokter, maaf ya, kami tidak dapat menyuguhkan apa apa, agaknya semua perabotan dapur terendam di bawah”, katanya dengan suara yang begitu merdu, sekalipun di luar terdengar hamparan hujan masih mendayu dayu. “Oh, enggak apa-apa kok Dik”, sahutku. Dan untuk melewati waktu, aku banyak bertanya padanya, yang ternyata bernama Janda Kembang XXX.

Ternyata Janda Kembang XXX adalah janda tanpa anak, yang suaminya meninggal karena kecelakaan di laut 2 tahun yang lalu. Karena hanya berdua saja dengan ibunya yang sakit-sakitan, maka Janda Kembang XXX tetap menjanda. Janda Kembang XXX sekarang bekerja pada pabrik konveksi pakaian anak-anak, namun perusahaan tempatnya bekerja pun terkena dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Saat aku melirik ke jam tanganku, ternyata jam telah menunjukkan setengah dua dini hari, dan aku lihat Janda Kembang XXX mulai terkantuk-kantuk, maka aku sarankan dia untuk tidur saja, dan karena sempitnya kamar ini, aku terpaksa duduk di samping Janda Kembang XXX yang mulai merebahkan diri.

Tampak rambut Janda Kembang XXX yang panjang terburai di atas bantal. Dadanya yang membusung tampak bergerak naik turun dengan teraturnya mengiringi nafasnya. Ketika Janda Kembang XXX berbalik badan dalam tidurnya, belahan bajunya agak tersingkap, sehingga dapat kulihat buah dadanya yang montok dengan belahan yang sangat dalam. Pinggangnya yang ramping lebih menonjolkan busungan buah dadanya yang tampak sangat menantang. Aku coba merebahkan diri di sampingnya dan ternyata Janda Kembang XXX tetap lelap dalam tidurnya.

Pikiranku menerawang, teringat aku akan Wati, yang juga mempunyai buah dada montok, yang pernah aku tiduri malam minggu yang lalu, saat aku melepaskan lelah di panti pijat tradisional yang terdapat banyak di kawasan aku berpraktek. Tapi Wati ternyata hanya nikmat di pandang, karena permainan seksnya jauh di bawah harapanku. Waktu itu aku hampir-hampir tidak dapat pulang berjalan tegak, karena burungku masih tetap keras dan mengacung setelah ‘selesai’ bergumul dengan Wati. Maklum, aku tidak terpuaskan secara seksual, dan kini, telah seminggu berlalu, dan aku masih memendam berahi di antara selangkanganku.

Aku mencoba meraba buah dada Janda Kembang XXX yang begitu menantang, ternyata dia tidak memakai beha di bawah bajunya. Teraba puting susunya yang mungil. dan ketika aku mencoba melepaskan bajunya, ternyata dengan mudah dapat kulakukan tanpa membuat Janda Kembang XXX terbangun. Aku dekatkan bibirku ke putingnya yang sebelah kanan, ternyata Janda Kembang XXX tetap tertidur. Aku mulai merasakan kemaluanku mulai membesar dan agak menegang, jadi aku teruskan permainan bibirku ke puting susu Janda Kembang XXX yang sebelah kiri, dan aku mulai meremas buah dada Janda Kembang XXX yang montok itu. Terasa Janda Kembang XXX bergerak di bawah himpitanku, dan tampak dia terbangun, namun aku segera menyambar bibirnya, agar dia tidak menjerit. Aku lumatkan bibirku ke bibirnya, sambil menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Terasa sekali Janda Kembang XXX yang semula agak tegang, mulai rileks, dan agaknya dia menikmati juga permainan bibir dan lidahku, yang disertai dengan remasan gemas pada ke dua buah dadanya.

Setalah aku yakin Janda Kembang XXX tidak akan berteriak, aku alihkan bibirku ke arah bawah, sambil tanganku mencoba menyibakkan roknya agar tanganku dapat meraba kulit pahanya. Ternyata Janda Kembang XXX sangat bekerja sama, dia gerakkan bokongnya sehingga dengan mudah malah aku dapat menurunkan roknya sekaligus dengan celana dalamnya, dan saat itu kilat di luar membuat sekilas tampak pangkal paha Janda Kembang XXX yang mulus, dengan bulu kemaluan yang tumbuh lebat di antara pangkal pahanya itu.

Kujulurkan lidahku, kususupi rambut lebat yang tumbuh sampai di tepi bibir besar kemaluannya. Di tengah atas, ternyata clitoris Janda Kembang XXX sudah mulai mengeras, dan aku jilati sepuas hatiku sampai terasa Janda Kembang XXX agak menggerakkan bokongnya, pasti dia menahan gejolak berahinya yang mulai terusik oleh jilatan lidahku itu.

Janda Kembang XXX membiarkan aku bermain dengan bibirnya, dan terasa tangannya mulai membuka kancing kemejaku, lalu melepaskan ikat pinggangku dan mencoba melepaskan celanaku. Agaknya Janda Kembang XXX mendapat sedikit kesulitan karena celanaku terasa sempit karena kemaluanku yang makin membesar dan makin menegang.

Sambil tetap menjilati kemaluannya, aku membantu Janda Kembang XXX melepaskan celana panjang dan celana dalamku sekaligus, sehingga kini kami telah bertelanjang bulat, berbaring bersama di lantai kamar, sedangkan ibunya masih nyenyak di atas tempat tidur.

Mata Janda Kembang XXX tampak agak terbelalak saat dia memandang ke arah bawah perutku, yang penuh ditumbuhi oleh rambut kemaluanku yang subur, dan batang kemaluanku yang telah membesar penuh dan dalam keadaan tegang, menjulang dengan kepala kemaluanku yang membesar pada ujungnya dan tampak merah berkilat.

Kutarik kepala Janda Kembang XXX agar mendekat ke kemaluanku, dan kusodorkan kepala kemaluanku ke arah bibirnya yang mungil. Ternyata Janda Kembang XXX tidak canggung membuka mulutnya dan mengulum kepala kemaluanku dengan lembutnya. Tangan kanannya mengelus batang kemaluanku sedangkan tangan kirinya meremas buah kemaluanku. Aku memajukan bokongku dan batang kemaluanku makin dalam memasuki mulut Janda Kembang XXX. Kedua tanganku sibuk meremas buah dadanya, lalu bokongnya dan juga kemaluannya. Aku mainkan jariku di clitoris Janda Kembang XXX, yang membuatnya menggelinjang, saat aku rasakan kemaluan Janda Kembang XXX mulai membasah, aku tahu, saatnya sudah dekat.

Kulepaskan kemaluanku dari kuluman bibir Janda Kembang XXX, dan kudorong Janda Kembang XXX hingga telentang. Rambut panjangnya kembali terburai di atas bantal. Janda Kembang XXX mulai sedikit merenggangkan kedua pahanya, sehingga aku mudah menempatkan diri di atas badannya, dengan dada menekan kedua buah dadanya yang montok, dengan bibir yang melumat bibirnya, dan bagian bawah tubuhku berada di antara kedua pahanya yang makin dilebarkan. Aku turunkan bokongku, dan terasa kepala kemaluanku menyentuh bulu kemaluan Janda Kembang XXX, lalu aku geserkan agak ke bawah dan kini terasa kepala kemaluanku berada diantara kedua bibir besarnya dan mulai menyentuh mulut kemaluannya.

Kemudian aku dorongkan batang kemaluanku perlahan-lahan menyusuri liang sanggama Janda Kembang XXX. Terasa agak seret majunya, karena Janda Kembang XXX telah menjanda dua tahun, dan agaknya belum merasakan batang kemaluan laki-laki sejak itu. Dengan sabar aku majukan terus batang kemaluanku sampai akhirnya tertahan oleh dasar kemaluan Janda Kembang XXX. Ternyata kemaluanku cukup besar dan panjang bagi Janda Kembang XXX, namun ini hanya sebentar saja, karena segera terasa Janda Kembang XXX mulai sedikit menggerakkan bokongnya sehingga aku dapat mendorong batang kemaluanku sampai habis, menghunjam ke dalam liang kemaluan Janda Kembang XXX.

Aku membiarkan batang kemaluanku di dalam liang kemaluan Janda Kembang XXX sekitar 20 detik, baru setelah itu aku mulai menariknya perlahan-lahan, sampai kira-kira setengahnya, lalu aku dorongkan dengan lebih cepat sampai habis. Gerakan bokongku ternyata membangkitkan berahi Janda Kembang XXX yang juga menimpali dengan gerakan bokongnya maju dan mundur, kadangkala ke arah kiri dan kanan dan sesekali bergerak memutar, yang membuat kepala dan batang kemaluanku terasa di remas-remas oleh liang kemaluan Janda Kembang XXX yang makin membasah.

Tidak terasa, Janda Kembang XXX terdengar mendasah dasah, terbaur dengan dengusan nafasku yang ditimpali dengan hawa nafsu yang makin membubung. Untuk kali pertama aku menyetubuhi Janda Kembang XXX, aku belum ingin melakukan gaya yang barangkali akan membuatnya kaget, jadi aku teruskan gerakan bokongku mengikuti irama bersetubuh yang tradisional, namun ini juga membuahkan hasil kenikmatan yang amat sangat. Sekitar 40 menit kemudian, disertai dengan jeritan kecil Janda Kembang XXX, aku hunjamkan seluruh batang kemaluanku dalam dalam, kutekan dasar kemaluan Janda Kembang XXX dan seketika kemudian, terasa kepala kemaluanku menggangguk-angguk di dalam kesempitan liang kemaluan Janda Kembang XXX dan memancarkan air maniku yang telah tertahan lebih dari satu minggu.

Terasa badan Janda Kembang XXX melamas, dan aku biarkan berat badanku tergolek di atas buah dadanya yang montok. Batang kemaluanku mulai melemas, namun masih cukup besar, dan kubiarkan tergoler dalam jepitan liang kemaluannya. Terasa ada cairan hangat mengalir membasahi pangkal pahaku. Sambil memeluk tubuh Janda Kembang XXX yang berkeringat, aku bisikan ke telinganya, “Janda Kembang XXX, terima kasih, terima kasih…”
Baca Selengkapnya »»

Foreplay Memanas, Lucuti Busananya Perlahan


MEMBUAT suasana bercinta memanas, Anda hanya perlu menggenjot serangan saat foreplay. Ketika gairah berhasil memanas, dengan sendirinya aksi bercinta pun bakal lebih hot.
Melakukan foreplay, jangan batasi gerakan Anda. Dengan durasi yang cukup singkat, Anda berhak melakukan berbagai hal yang menciptakan kenikmatan satu sama lain.

Berikut ini beberapa tip yang bisa diaplikasikan, seperti dilansir The-intimate-couple.


-Perlahan-lahan mulailah untuk membuka bajunya.

-Berikan ciuman lembut di bibirnya.

-Usaplah wajahnya.

-Luangkan waktu untuk memberikan pijatan lembut di bahu dan tubuhnya secara keseluruhan.

-Berbisik dan mengatakan padanya betapa cantiknya dia.

-Cium lembut seluruh tubuhnya sambil menjalankan jari-jari Anda di tubuhnya.

-Membelai perutnya.

-Menyentuh dan membelainya sambil berbicara betapa Anda mencintainya.

-Mencoba menemukan titik baru di tubuhnya yang sensitif dan membawanya pada gairah seksual yang membara.

-Bangun keintiman dengan terus memandangnya atau saling menjaga kontak.
Baca Selengkapnya »»

Cerita Dewasa : Desahan Gadis Penari Bali


ilustrasi (google)

Perkenalkan Namaku Agus seorang PNS di Bali, untuk kerahasiaan aku tidak akan menuliskan tahun terjadinya peristiwa ini dan nama asli. Namun cerita ini adalah benar adanya.

Bulan November aku mengikuti prajabatan PNS, yah tak ada yang kukenal di prajabatan ini, karena itu aku berusaha untuk mencari teman sebanyak-banyaknya. Pagi itu adalah jam pertama, aku duduk di bangku kelas bagian tengah, kulirik kiri dan kanan. tak ada yanmg kukenal, namun ada satu yang menarik perhatianku, seorang gadis cantik duduk tak jauh dariku, dia nampak ramah dan selalu tersenyum, kulitnya sawo matang, namun bagiku dia terlihat yang paling cantik di kelas. Dia lalu memperkenalkan diri.

“Nama saya Ni Ketut Dede Ariyani, aku guru tari Bali, nama kamu siapa? kok ngeliatin terus sih?”
Aku jadi salah tingkah, lalu aku menjawab,
“Maaf ya mbok tut, nama saya Agus, abis ga ada yang dikenal sih…”
“Sekarang kan udah kenal,emang umur kamu berapa? kok manggil mbok”
“25 mbok, emang kenapa?”
“oh, emang bener kamu manggil aku mbok, umur aku 28.”
“Oh…”

Meskipun dia bilang umurnya 28 tapi dia tidak terlihat setua itu, perawakannya lebih pendek dari aku dan badannya sintal. Sejak perkenalan itu kami sering ngobrol berdua pada waktu prajabatan selama 2 minggu itu, smsan dan telpon-telponan, dia juga sering ditengok sama cowok yang sama temen-temen aku dipanggil raksasa, Dede bilang sih itu tunangannya, aku kesel juga tapi apa daya aku cuma bisa senyum, tapi memang pada waktu itu aku belum merasakan apa-apa.

Pada waktu sehari sebelum penutupan dia bilang begini,
“Gus, nanti abis penutupan kita jalan-jalan yuk!?”
“ayuk”, kataku dengan senang hati, “emang mau kemana mbok?”
“yah, ke bioskop atau kemana gitu.”
“oke..”

saat itu tiba, aku dah siap-siap untuk penutupan dan tak lupa aku membawa pakaian ganti, begitu selesai penutupan kami pergi ke bioskop, kami nonton dan sengaja memilih bangku paling pinggir, entah kenapa aku mulai berpikiran kotor, lalu aku memeluk dia, dia tidak menolak. Lalu aku beranikan diri untuk mencium dia, dia malah menyambut ciumanku dengan hangat. Kami berciuman lama sekali, aku melumat bibirnya dengan penuh nafsu, setelah beberapa menit dia berkata,
“ternyata perasaan gak bisa bohong ya.”
“iya…”

Aku tak ragu lagi untuk memeluk dan menciumnya bahkan aku berani memegang payudaranya dari dalam bajunya sementara dia juga memegang dadaku, akhirnya kami selesai nonton film lalu aku berkata,
“De..putusin cowok kamu ya, trus nikah ma aku.”
“Ga bisa gus, aku ma dia dah lebih dari pacaran kami dah biasa begituan, tinggal dibantenin aja kami dah jadi suami istri…”
Aku kecewa dan marah tapi ga bisa apa-apa, akhirnya aku bilang,
“Terserah.”

Aku tidak pernah ngehubungi dia selama beberapa hari, akhirnya aku berpikir normal aku tidak mungkin masuk ke dalam kehidupannya, yah… aku akhirnya menghubungi dia lagi dan kami ngobrol seperti biasa tanpa ada masalah lagi dan pada suatu saat dia mengajak aku makan di ayam wong Solo.
Aku sebagai orang yang lebih miskin dari dia jelas tidak menolak. Kami pergi kesana terus kami memesan meja di tempat bebas rokok yang sepi dan tertutup.

Setelah selesai makan, aku dan dia yang duduk bersebelahan menumpahkan rasa kangen. Kami saling mencium, saling melumat dan saling memegang. Aku berkata padanya,
“De, aku pingin buat cupang di leher kamu.”
“Coba aja!”
Aku mencoba menghisap lehernya untuk membuat cupang tetapi gagal, dia lalu tertawa sambil berkata,
“He… he… he… bukan gitu caranya, nih aku contohin”, dia mulai beraksi. Entah bagaimana caranya dia mengisap, yang jelas rasanya aku melayang-layang, aku cuma mendesah,
“Ah… ah…”
“Tuh kan, dah merah”, kata dia sambil menunjuk leher aku.
“Dasar… De, kita pulang yuk.”
“ayuk.”
Dede lalu membayar makanan sementara aku langsung menuju mobilnya.

Sesampai di rumah, pikiranku kacau karena cupang itu, aku langsung nge-sms dia,
“De… aku kepingin cupangnya bukan di leher, aku pingin di dada, aku juga pingin buat cupang di dada kamu.”
Aku kira dia marah, tapi dia malah ngebalas,
“Gus, aku sayang ma kamu, kalau kamu buat cupang di dadaku boleh kok, selain itu sebagai tanda sayang aku, aku pingin 3d.”
“Apaan tuh 3d?”, balasku.
“Diputer, Dijilat trus Dicelupin.”
“Hah!! Beneran? Atau becanda nih?”
“beneran, masak aku main-main.”
“Kapan kamu mau? Tapi aku belum pernah lho sayang, apa mesti pake pengaman?”
“Aku pinginnya ga pake, tapi kalau kamu ragu lebih baik pake aja, waktunya nanti aja kalau ada kesempatan, gimana?”
“Oke deh, met istirahat ya sayang…”
“Istirahat apaan aku kan harus nari di Hotel sayang, nanti kalau aku ga balas berarti aku masih sibuk atau ada si dia sama aku.”
“Ya deh, met kerja ya sayang.”

Yah, ini adalah jadwal harian dia, dia adalah seorang penari Bali dan kadang dia nari di hotel kadang malah sampai ke luar negeri.
Lama aku menunggu waktu itu, akhirnya aku mendapat kesempatan pelatihan 4 hari. Tetapi karena kecerdikan panitia pelatihan itu hanya 3 hari. Berarti aku hanya punya waktu 1 hari. Aku langsung nge-sms dia,
“De… besok ga ngajarkan? Kita laksanakan rencana kita yuk?”
“ayuk, nanti aku jemput dimana?”
“Jemput aku ditempat pelatihan di Jalan Hayam wuruk.”
“Oke!”

Besoknya aku sudah menunggu dia di tempat pelatihan. Beberapa menit kemudian dia tiba. Aku langsung naik ke mobilnya dan ganti baju di dalamnya. Aku yang udah nafsu lalu bilang,
“Kita mau kemana? ayuk”, Dede memakai baju yang agak ngepres di badannya, sementara di bagian bawah dia hanya mengenakan kain pantai, ketika aku lirik ternyata dia tidak mengunnakan apa-apa selain kain pantai dan tentu saja cd.
“Jangan gitu, kita makan dulu yuk…”
Kami lalu makan, selanjutnya kami menuju bungalow di Kuta, namun sebelumnya kami sudah membeli makan siang terlebih dahulu.
Sesampainya di kamar bungalow, dia lalu menutup pintu, aku yang udah nafsu langsung menyerbunya. Dia lalu berkata,
“Ga jadi ah…”
“Trus kita ngapain kesini?”
“ngobrol sambil tiduran.”
“Enak aja”, aku langsung menyerbu dia berusaha melepas bajunya dan kain pantainya, lalu dia bilang,
“Sabar dong sayang.”

Dede lalu mematikan lampu, lalu menutup korden yang tadi belum tertutup, aku memang udah nafsu liat kemolekan dia jadi ga memperhatikan itu. Akhirnya aku menyerbu dia, kali ini aku tidak menemuka perlawanan berarti, dia udah siap. Aku mencium dia dengan nafsu, lalu melepas bajunya dan kain pantainya, tubuhnya kini hanya ditutupi BH dan CD. Dia lalu bilang,
“Gus… Aku pernah dioperasi di payudara dulu ada tonjolannya.”
BHnya aku lepas lalu aku menciumi payudaranya dengan lembut,
“ehm… ehm…”
“Gus… ka… mu… be….bbener lembut… ah ah ahh..”
Desahannya membuat aku bernafsu, lalu aku melepas bajuku dan celana ku sehingga aku telanjang di depan dia, CD diapun kulepas, dia lalu berkata,
“Gus… pake kondom dulu ya sayang…”
Dia lalu memakaikan aku kondom, aku yang masih awam langsung saja memasukkan punyaku ke dalam vaginanya. Beberapa menit kemudian aku udah keluar, yah karena aku belum pengalaman, dia melepas kondomku dan berkata,
“Ga apa-apa kan baru pertama.”
Belum berapa menit nafsuku naik lagi. Aku langsung menyentuh payudaranya, kali ini dia lebih pintar dia lalu berkata,
“Gus… sekarang kamu di bawah ya, aku yang di atas.”
aku rebah di bawah, dia pelan-pelan memasukkan penisku ke vaginanya,
“uh… enak sekali…”, aku mendesah.
Diapun mendesah,
“Ah… ah… nikmat sekali….ah… ah…”
Goyangannya betul-betul luar biasa, aku sampai merem melek, bodynya yang sintal bergoyang di atasku, aku memegang payudaranya sambil sesekali menciumnya,
“ah… nikmat sekali rasanya”, ditengah-tengah kenikmatan itu tiba-tiba dia mengejang dan melepaskan vaginanya sambil terengah-engah.
“Aku belum keluar kok dah selesai De?”
“Cape… dan kayanya dah keluar Gus.”
Aku langsung menindihnya dan memasukkan penisku ke vaginanya dan mengocoknya dengan cepat karena tanggung pkirku, akhirnya,
“ah…”
Spermaku tumpah, aku langsung menarik penis ku keluar dan langsung mengeluarka spermaku di perutnya. Dede lalu berkata,
“Sekarang gantian, aku yang belum keluar nih.”
“Yah…”
Aku lalu memasukkan jariku ke vaginanya dan mengocoknya.
“ah..ah…ah…ah…”, Dede mendesah keras.
“gimana De, enak kan?”
“enak banget… ah…ah… ah…”
Tiba-tiba dia memeluk aku erat sekali sambil mencium dada aku hingga cupang.
Kamipun tertidur, dan sorenya pulang.

Kami masih kontak beberapa minggu, hingga ada satu kejadian jelek yang aku dan dia alami. Kami nonton di bioskop berdua dan disudut seperti biasa, selanjutnya kami berciuman, lalu tanganku bergerilya ke selangkangannya, tangan dia pun juga sama. Aku memasukkan tanganku ke vaginanya dan tangannya juga mulai mengocok penisku
“Ah… ah… ah…” Desahan kami berdua berirama.
Akhirnya tanganku terasa basah dan dia mengejang… Aku sama sekali belum keluar tapi film keburu selesai. Di perjalanan pulang akhirnya kami ribut, karena dia ingin pisah dariku dan kembali ke tunangannya. Aku berusaha membela diri tapi dia sudah berketetapan.
Akhirnya kami berpisah dan aku tidak pernah bertemu dengan dia sampai akhirnya dia menikah dengan tunangannya yang juga penari.
Baca Selengkapnya »»

CERITA DEWASA GARA-GARA BH HITAM BU DENOK



Namaku Indra, dan ini adalah ceritaku saat masih berumur 18 tahun. Saat berangkat ke Yogya untuk kuliah aku bertemu dengan Bu Denok dan Pak Jerry suaminya. Bu Denok adalah mantan guruku saat SMP dulu. Setelah bercerita panjang lebar mereka menawarkan padaku untuk tinggal di tempat mereka selama aku kuliah. Setelah mendapat ijin orang tuaku, akupun menerima tawaran baik mereka karena aku memang tidak punya kenalan di Yogya.

Setelah sebulan tinggal bersama aku tahu kalau Pak Jerry yang bekerja diluar pulau sering sekali berangkat, sementara kedua anaknya lebih memilih tinggal bersama neneknya dikalimantan untuk mernyelesaikan pendidikan dasar mereka. Aku sering melihat Bu Denok melamun sepulang dia dari mengajar disekolah. Bu Denok juga sering cerita panjang lebar padaku tentang kesepiannya dirumah selama ini. Dan aku selalu menjadi pendengar yang baik.

Dibalik sikap baik yang kuperlihatkan, terpendam hasrat yang ada sejak SMP dan tumbuh lagi sejak pertemuan kembali dengan Bu Denok sekarang. Waktu SMP dulu aku paling bersemangat jika pelajaran Bu Denok, selain cara mengajarnya yang enak aku bisa mengintip BH yang dia gunakan. Antara kancing didada dan kerah lehernya terdapat celah yang sering terbuka, sehingga jika diperhatikan secara teliti, orang pasti bisa melihat pakaian dalam yang ia gunakan. Dan selama penagamatanku Bu Denok selalu memakai BH warna Hitam.

Itu selalu menjadi santapanku setiap mata pelajarannya. Bahkan aku selalu memperhatikan gerak-geriknya selama disekolah. Waktu itu usianya 31 tahun, dengan wajahnya yang putih dan bentuk tubuhnya yang menawan membuatku selalu menjadikannya sebagai objek hayalan jika onani. Sekarang diusianya yang ke 36 tdak terlihat kalau Bu Denok telah memiliki 2 orang anak yang sudah SMP. Malah menurutku ia terlihat lebih menawan, terutama pada bagian pinggul dan dada ukuran 36 B yang lekukannya semakin terbentuk. Itu semua karena program BL yang diikutinya tiap senin dan kamis sore.

Awalnya aku cuma mengkhayalkan tubuh Bu Denok jika sedang bermasturbasi. Kemudian aku melakukannya sambil memegang CD dan BH hitam milik Bu Denok, sampai akhirnya aku berani menguping jika Pak Jerry yang pulang dan sedang bercinta denagn Bu Denok. Sambil mendengar desahan dan erangan erotis dari dalam kamar, tanganku asik mngocok batang kontolku yang lumayan besar. Dan bila sudah keluar kubersihkan dengan CD atau BH Bu Denok yang akan dicuci besok.

Akhirnya muncul niatku untuk mencicipi lubang vagina Bu Denok yang pasti sangat keset dan terawat. Aku melakukannya setelah 4 bulan tinggal disana, saat itu hari kamis dan suaminya sudah berangkat seminggu. Aku menunggu didalam kamar sambil membayangkan “malam pertama” yang akan kulalui bersama Bu Denok. Saat dia pulang dari BL aku membukakan pintu rumah.
“Sore Ndra.. baru pulang?” Sapanya ramah dan tersenyum padaku.
“Iya Bu.. baru aja” Balasku sambil mengangguk.
Kemudian dia pergi kedapur membuat segelas susu lalu diletakkan datas meja makan. Kemudian ia masuk kamar untuk mandi. Saat dia mandi, kumasukkan serbuk tidur yang kubeli di apotik kedalam susu yang akan diminumnya.

Sekitar 45 menit kemudian Bu Denok keluar dari kamar, ia menggunakan daster motif bunga warna biru dengan panjang selutut tanpa lengan dengan belahan dada yang agak rendah, sehingga jika dia agak membungkuk belahan payudaranya yang indah akan tampak jelas terlihat olehku. Setelah mengambil susu di atas meja dia duduk menemaniku menonton TV di ruang tengah.
“Ada berita apa Ndra?” Tanyanya sambil meminum susu.
“Biasa Bu.. politik gak ada habis-habisnya” Sahutku sambil mencuri pandang keketiaknya.
“Bapa ada nelepon gak?”Tanyanya lagi sambil menghabiskan susu di gelas.
“Belum Bu, mungkin masih ngelonin istri baru” Candaku.
“Nakal ya..” Tegurnya sambil mencubit pinggangku.
Aku tidak menghindar karena dengan itu aku bisa melihat belahan dadanya yang seperti ingin melompat dari dalam dasternya.

Sekitar 5 menit kemudian Bu Denok mulai menguap dan kepalanya mulai jatuh karena sangat mengantuk.
“Ndra ibu tidur duluan.. Gak tau kok ngantuk banget hari ini” Pamitnya.
“Mungkin tadi terlalu diforsir tenaganya Bu” Sahutku dengan tersenyum.
Kemudian Bu Denok masuk kamar dan menutupnya. Setelah 10 menit menunggu aku mulai beraksi, kuketuk pintunya pelan tiga kali lalu kupanggil namanya, tak ada jawaban. Kuulangi sekali lagi tetap tak ada jawaban, kuputar pegangan pintu dan kubuka dengan sangat perlahan dan kututup keras-keras. Bu Denok tidak bereaksi di atas kasurnya.

Kulihat jam dinding, 18:13 masih banyak waktu pikirku. Aku naik keatas kasur lalu ku perhatikan wajahnya, cantik sekali. Kucium bibirnya dengan lembut, lalu kujilati wajahnya sampai basah kemudian ciumanku turun kelehernya. Kusapu sekeliling lehernya dengan jilatan dan sedotan hingga memerah. Setelah puas kuturunkan kepalaku kedadanya, walau masih berpakaian lengkap tapi bisa kurasakan kekenyalan sepasang payudara yang indah itu. Kedua tanganku secara perlahan tapi pasti meraih kedua bukit kembar itu lalu mengusapnya dengan lembut sementara kepalaku turun keselangkangnnya. Dibalik kain daster itu tercium aroma kewanitaan yang sangat merangsang.

Kuhirup puas-puas wangi yang memabukkan itu, sehingga mengakibatkan remasan-remasan yang kulakukan kepayudara Bu Denok menjadi kasar dan tak terkendali. Tarikan napasku semakin berat seiring dengan hasrat yang semakin menggebu. Kemudian aku membuka semua pakaian yang mnelekat ditubuhku, dan menutup mataku dengan kain. Setelah itu kubuka daster yang dikenakan oleh Bu Denok kemudian kuatur posisi tubuhnya, Kedua tangan di atas kepala dan kaki yang membuka lebar. Lalu kubvka kain penutup mataku, pemandangan yang erotis dan menantang langsung terlihat dihadapanku. Tubuh Bu Denok yang tergolek lemah dan tak berdaya kini hanya ditutupi oleh BH hitam pada payudaranya yang montok dan CD pink yang menggembung pada selangkangannya. Batang penisku semakin tegak mengacung siap perang.

Kudekati tindih tubuh Bu Denok yang tergolek lemah dan pasrah itu. Kucium bagian payudaranya yang tak tertutup BH, lalu tanganku menelusup kedalam BHnya dan meraih salah satu puting susunya kemudian memilin-milinnya. Dengan napas yang makin memburu kusingkap BHnya keatas sehingga kedua payudaranya langsung membusung kedepan seakan mengundangku untuk menikmatinya. Kuciumi kedua payudaranya lalu kukulum,kusedot dan kugigit-gigit putingnya sampai memerah. Setelah itu kulirik selangkangannya, CD pink Bu Denok tak mampu menutupi beberapa helai rambut hitam yang menjulur keluar dari balik CD itu. Kutahan hasrat itu karena aku ingin menikmatinya saat Bu Denok mulai sadar nanti.

Kuraih kedua payudaranya kuremas-remas dengan kasar lalu kuletakkan batang penisku diantara sepasang susu yang indah itu. Kemudian aku mulai menggerakkan pinggulku maju mundur, rasanya nikmat sekali walau pasti tak senikmat jika masuk kelubang vaginanya batinku. Pelan tapi pasti rasa nikmat mulai merasukiku, napasku mulai tersengal dan desahan mulai keluar dari mulutku tanpa diminta. Butir-butir keringat makin mengalir deras, kukulum bibir Bu Denok sejenak lalu kulanjutkan kembali genjotanku tanpa kenal lelah. Kulihat tubuh Bu Denok mulai berguncang karena gerakanku yang makin hebat.

Sekitar 10 menit berlalu dan aku sudah lelah menahan, kuputuskan untuk segera mengeluarkannya. Gerakan pinggulku makin kupercepat dan kedua payudaranya makin kurapatkan. Rasa nikmat tak terlukiskan mulai menjalari batang penis dan menyebar keseluruh tubuhku. Cairan putih kental dari kepala penisku dan membanjiri permukaan tubuh indah Bu Denok yang tergolek diam. Kukocok batang penisku sambil memuntahkan cairan spermaku kewajahnya, desahan-desahan nikmat keluar dari mulutku.

Setelah selesai aku beristirahat sejenak sambil menatap tubuh Bu Denok yang hanya tertutup oleh CD saja. Kemudian kuambil lap dan air hangat yang memang sudah kupersiapkan, kubersihkan setiap bagian tubuhnya yang terkena siraman spermaku. Setelah itu kucium-cium sebentar lalu kupasangkan lagi BHnya, kemudian kubongkar lemarinya kucari baju yang biasa digunakan Bu Denok kesekolah. Setelah dapat kupakaikan ketubuhnya. Samar-samar terlihat sekali kalau baju itu membentuk lekukan yang sangat indah aku berdecak kagum. Kemudian aku menunggu dia bagun sambil memainkan payudaranya yang indah.

Aku duduk disampingnya saat Bu Denok mulai membuka matanya. Cahaya lampu tampak menyilaukan matanya, kuperhatikan bagian dadanya yang terbuka. Batang penisku perlahan tapi pasti kembali mengeras melihat pemandangan yang erotis itu.
“Jam berapa ini Ndra?” Tanyanya sambil mengucek mata.
“10 lewat 5 jawabku” Sementara mataku terus menatap kebelahan dadanya.
“Huuaah.. masih malam toh.. lagi ngapain kamu” Tegurnya sambil merentangkan tangan, otomatis belahan payudaranya terlihat sampai BHnya. Dan itu membuatku menjadi lupa diri.
“Lagi liat ini Bu..” Tanganku langsung meremas salah satu payudaranya yang montok.
“Jangan kurang ajar kamu ya” Bentaknya sambil menepis tanganku dan menutupi bagian dadanya yang terbuka.

Sambil mendekatinya kuceritakan semua yang baru saja kulakukan tadi. Wajahnya tampak memerah karena kaget dan tak percaya. Tiba-tiba aku langsung memeluknya, dan mencium bibirnya. Tak sampai disitu, kurebahkan tubuhnya keatas ranjang dan kuhimpit dengan tubuhku. Kulanjutkan aktifitasku, mencium dan melumat bibirnya.
“Jangan Ndra.. Ini dosa” Pinta Bu Denok lirih.
Tapi aku terus menciuminya, tanganku mulai menyusup kebalik baju Bu Denok. Bu Denok menangkisnya, dengan sedikit gerakan aku berhasil menepisnya dan terus menyusup masuk sampai menyentuh payudara Bu Denok yang masih terbunkus BH. Aku meremas lembut payudaranya yang montok itu. Bu Denok mendesah, aku terus meremas tidak lupa ciumanku terus melumat bibirnya. Aku mengalihkan ciumanku ke lehernya. Bu Denok kembali mnedesah, jemari tanganku mulai nerayap kepunggungnya, dan terus melepas tali BHnya.

“Berhasil” Batinku. Bu Denok tersentak.
“Kita tidak boleh melakukan ini Ndra” sambil mendorongku kesamping.
“Memang tidak boleh sih.. tapi..”
Aku kembali merangkul Bu Denok, kali ini ciumanku lebih ganas dari pada yang pertama. Mulai dari bibir ke telinga terus menjalar ke lehernya. Jemari tanganku melanjutkan aksi lagi menarik keatas BH terus meremasnya, memuntir-muntir putingnya. Bu Denok pasrah dan kelihatan mulai panas dengan permainan yang kuterapkan. Aku mengangkat tubuh Bu Denok dan membuka baju serta BHnya, akupun demikian. Bu Denok tampak takjub melihat batang penisku. Aku memulai kembali aksiku, kali ini ciumanku kuarahkan ke payudaranya. Bu Denok menggeliat, apalagi tanganku menyentuh payudaranya yang satu lagi. Kami berdua telah bermandikan keringat, tangan Bu Denok menjambak rambutku.

Permainanku jemariku mulai merangkak ke bawah dan berusaha menyelusup kebalik rok dan CDnya. Bu Denok tidak lagi menangkisnya. Jemari tanganku menyentuh rambut kelaminnya, lalu jemariku menggesek-gesek sekitar liang vagina Bu Denok. Bu Denok mendesah panjang dan membenamkan kepalaku kepayudaranya, untuk mendapatkan kenikmatan lebih. Setelah beberapa lama, ciumanku mulai merangkak kebawah sampai kebatas rambut vaginanya yang sedikit terbuka. Aku kemudian memeloroti rok dan CDnya, akupun demikian. Aku kembali terkagum melihat tubuh telanjang Bu Denok. Payudaranya putih padat berisi dihiasi puting susu yang berwarna coklat kemerah-merahan. Sementara Vaginanya dikelilingi rambut kelamin yang lebat.

Aku kembali beraksi, kali ini daerah sasaranku liang vaginanya. Aku menciumi dan menjilati yang agak menonjol disekitar liang vaginanya mungkin itu yang dinamakan kloritas. Setelah beberapa lama ciumanku kembali keatas, merentangkan tangannya yang menutupi payudaranya. Terus menjilati tubuhnya dan akhirnya mnedarat lagi di bibirnya. Batang penisku dengan mulut vagina Bu Denok saling beradu. Ini menyebabkan batang penisku ingin dimasukkan ketempatnya. Aku mengatur posisi dan melebarkan kaki bo Denok.
Bu Denok tersadar dan berkata, “Kita sudah terlalu jauh.. jangan teruskan”
Aku tidak lagi memperdulikan kata-kata Bu Denok karena hawa nafsuku sudah menuju puncak. Aku kembalimeraih Bu Denok dan menciumi bibirnya, kali ini lebih dahsyat lidahku bergoyang-goyang di mulutnya.

Bu Denok tak bisa berbuat apa-apa dan kembali larut dalam kenikmatan. Batang penisku yang sudah gatal ingin memasuki liang vagina Bu Denok. Aku mengambil posisi yang pas, batang penisku mulai memasuki pintu kewanitaannya. Seperti masih perawan, batang penisku sering melenceng memasuki liang vagina Bu Denok, aku terus berusaha dan akhirnya masuk juga batang vaginaku keliang vagina Bu Denok. Bu Denok mendesah panjang dan badannya berguncang.
“Gila keset amat.. kaya belum punya anak aja” batinku.
Bu Denok telah sedikit tenang dan batang penisku telah masuk sedikit demi sedikit. Akhirnya semua batang kejantananku tenggelam di liang senggama Bu Denok. Aku menggoyangkan pinggulku sehingga batang kejantananku keluar masuk di liang senggama Bu Denok. Makin lama makin cepat, Bu Denok mendesah sambil menyebut namaku. Kami berdua bermandikan keringat walaupun cuaca pada saat itu lumayan dingin.

Erangan yang panjang disertai cairan hangat menerpa batang kejantananku yang masih berada didalamliang senggama Bu Denok. Rupanya Bu Denok telah mencapai orgasme, aku pun tidak tinggal diam dengan mempercepat gerakan batang kejantananku keluar masuk diliang senggama Bu Denok.
“Inilah saatnya” Batinku.
Akhirnya puncak kenikmatanku datang, spermaku muncrat didalam liang senggama Bu Denok bersamaan dengan cairan hangat yang kembali menyirami batang penisku, ternyata Bu Denok kembali orgasme. Malam itu berlanjut dengan beberapa kali orgasme Bu Denok, sampai akhirnya kami kelelahan dan tertidur.

Pagi harinya, Bu Denok bangun lebih dulu dan langsung kekamar mandi. Sesaat kemudian aku terbangun dan mendengar guyuran air dikamar dan mengetoknya, Bu Denok pun membuka pintu kamar mandi. Kembali aku terkesima melihat Bu Denok yang telanjang bulat dengan rambut yang basah. Gairahku kembali memuncak, aku masuk dan langsung merangkul tubuh Bu Denok.
“Mandi dulu dong” Pinta Bu Denok manja.
Akupun menuruti ajakannya kemudian mengguyuri tubuhku dengan air. Beberapa saat setelah itu aku menyabuni tubuhku dengan sabun cair. Bu Denok turut membantu, malah dia menyabuni batang kejantananku yang kembali tegak.

Rasa malu Bu Denok telah hilang, dia mengocok-ngocok batang kejantananku dengan lembut. Nikmat rasanya, dan pada saat hampir mencapai klimaksnya aku melepaskan tangan Bu Denok karena belum saatnya. Gantian aku yang menyabuni Bu Denok, mula-mula kedua tangannya lalu kedua kakinya. Sampailah kedaerah yang vital, aku berdiri dibelakang Bu Denok terus merangkulnya dan menyabuni payudaranya dengan kedua telapak tanganku. Terdengar Bu Denok mendesah panjang. Usapanku kebawah melewati perutnya hingga sampai keliang senggamanya. Kembali aku mengusapnya dengan lembut. Busa sabun hampir menutupi liang senggama Bu Denok, kali ini Bu Denok merintih nikmat. Setelah puas aku mengguyur kedua tubuh kami yang masih berangkulan.

Aku membalikkan tubuhnya dan kami pun saling berhadapan. Bu Denok kemudian mencium bibirku, aku membalasnya dan kemudian terjadi french kiss yang dahsyat. Tangan kami pun tidak tinggal diam, aku menyentuh payudara Bu Denok dan ia menyentuh batang kejantananku yang masih perkasa berdiri. Setelah beberapa lama, Bu Denok membimbing batang kejantananku memasuki liang senggamanya. Dengan melebarkan kakinya batang kejantananku kembali memasuki liang senggama Bu Denok. Bu Denok melilitkan tangannya ke leherku kemudian aku menggendong Bu Denok dan menyandarkan ke dinding kamar mandi.

Setelah itu aku kembali menggoyangkan pinggulku yang membuat kejantananku keluar masuk liang senggama Bu Denok. Akhirnya spermaku keluar dan membasahi seluruh dinding liang senggama Bu Denok. Ternayata ia belum mencapai klimaks, untuk membantunya aku menjilati liang senggama Bu Denok. Bu Denok sedikit menjerit dengan apa yang kulakukan, Akhirnya Bu Denok mengeluarkan juga cairan dari liang senggamanya dan pas mengenai wajahku. Bu Denok terkulai nikmat, aku mengguyuri kembali tubuh kami berdua.

Aku dan Bu Denok telah selesai mandi, dan telah memakai pakaian masing-masing.
“Lain kali.. aku minta lagi ya sayang” Bisikku sambil menelusupkan tangan ke balik baju kerjanya.
“Atur aja” Desahnya manja.
Kemudian Bu Denok berangkat kerja dan aku pergi kuliah. Pokoknya selama bertugas Pak Jerry keluar pulau, aku menggantikan tugasnya memenuhi hasrat biologis Bu Denok di tempat tidur.

Itulah cerita seks dewasa yang terjadi karena terinspirasi oleh bh hitamnya bu denok.
Baca Selengkapnya »»

Apakah seks pertama kalinya menyakitkan bagi wanita?



Banyak wanita khawatir bahwa malam pertama mereka akan terasa menyakitkan. Benarkah demikian? Untuk mengetahuinya, simak beberapa hal yang bisa terjadi saat seks untuk pertama kalinya seperti yang dilansir dari Indiatimes berikut ini.

Tidak selalu sukses
Karena memang baru pertama kali melakukan, wajar jika seks tidak berjalan semulus yang dibayangkan. Misalnya pria ternyata mengalami ejakulasi dini atau wanita yang tidak mampu meraih klimaks. Namun semua itu bukan kesalahan Anda maupun pasangan. Semuanya wajar dan tetaplah berusaha untuk rileks sambil menikmati suasana intim bersama pasangan.

Memang sakit
Bagi wanita, seks untuk pertama kalinya memang menyakitkan. Namun jangan terlalu mengkhawatirkan hal itu. Ketakutan akan rasa sakit bisa menghancurkan suasana. Sebaiknya Anda berusaha untuk merasa nyaman dan melakukannya pelan-pelan. Sedikit demi sedikit, rasa sakit tersebut akan berubah menjadi kenikmatan.

Berdarah
Wanita yang mengalami pendarahan saat bercinta untuk yang pertama kalinya sering dikira masih perawan. Karena selaput dara robek akibat penetrasi kemaluan pasangan. Padahal bisa saja selaput darah sebelumnya robek saat berolahraga sehingga tidak ada pendarahan ketika bercinta.

Alat kontrasepsi
Jika ingin menunda hadirnya keturunan, pasangan kerap menggunakan kondom untuk seks yang pertama kalinya. Namun tahukah Anda, alat kontrasepsi tidak sepenuhnya bisa berhasil mencegah kehamilan.

Itulah beberapa hal yang bisa terjadi saat seks untuk pertama kalinya.
Baca Selengkapnya »»

Cerita Dewasa – Gairah Seks Dokter Cantik


Cerita Dewasa – Gairah Seks Dokter Cantik -- Para pembaca sekalian, terserah anda percaya atau tidak, tetapi kisah ini benar-benar terjadi. Waktu itu kalau tidak salah sekitar akhir tahun 2006 yang lalu, saat saya diharuskan melakukan medical check up di sebuah klinik kesehatan di Jakarta, guna memenuhi persyaratan agar diterima bekerja di sebuah perusahaan dan kebetulan saya juga diajak teman saya untuk mengikuti program asuransi jiwa karena dia adalah agen dari salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia, jika tidak salah nama perusahaannya adalah AIA.


Sebenarnya saya malas melakukan medical check up ini. Pasti lagi-lagi cuma cek darah, air seni, dan kotoran saja. Kemudian diperiksa oleh dokter memakai stetoskop untuk menyakinkan bahwa saya terkena penyakit atau tidak. Itu saja menurut saya, tidak ada yang lain. Dokter yang akan memeriksa saya paling-paling juga dokter cowok, mana sudah tua lagi.


Dengan sekali-sekali menguap karena jenuh karena sudah hampir setengah jam saya menunggu dokter yang tak kunjung datang. Padahal saya sudah melalui proses medical check up yang pertama, yaitu pemeriksaan darah, air seni, dan kotoran. Beberapa kali saya menanyakan pada orang di loket pendaftaran dan selalu memperoleh jawaban sama, yaitu agar saya sabar sebab dokternya dalam perjalanan dan mungkin sedang terjebak macet. Saya melihat arloji di tangan saya. Akhirnya saya memutuskan bahwa kalau dokternya tidak juga datang limabelas menit lagi, maka saya akan pulang saja ke rumah.


Dengan menarik nafas kesal, saya memandangi sekeliling saya. Tahu-tahu mata saya tertumbuk pada seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam klinik tersebut. Amboi, cantik juga dia. Saya taksir usianya sekitar 35 tahun. Tetapi alamak, tubuhnya seperti cewek baru duapuluhan. Kencang dan padat. Payudaranya yang membusung cukup besar itu tampak semakin menonjol di balik kaos oblong ketat yang ia kenakan. Gumpalan pantatnya di balik celana jeans-nya yang juga ketat, teramat membangkitkan selera. Batinku, coba dokternya dia ya. Tidak apa-apa deh kalau harus diperiksa berjam-jam olehnya. Akan tetapi karena rasa bosan yang sudah menjadi-jadi, saya tidak memperhatikan wanita itu lagi. Saya kembali tenggelam dalam lamunan yang tak tentu arahnya.


“Mas, silakan masuk. Itu dokternya sudah datang.” Petugas di loket pendaftaran membuyarkan lamunan saya. Saat itu saya sudah hendak memutuskan untuk pulang ke rumah, mengingat waktu sudah berlalu limabelas menit. Dengan malas-malasan saya bangkit dari bangku dan berjalan masuk ke ruang periksa dokter.


“Selamat malam”, suara lembut menyapa saat saya membuka pintu ruang periksa dan masuk ke dalam. Saya menoleh ke arah suara yang amat menyejukkan hati itu. Saya terpana, ternyata dokter yang akan memeriksa saya adalah wanita cantik yang tadi sempat saya perhatikan sejenak. Seketika itu juga saya menjadi bersemangat kembali.
“Selamat malam, Dok”, sahut saya. Ia tersenyum. Aah, luluhlah hati saya karena senyumannya ini yang semakin membuatnya cantik.
“Oke, sekarang coba kamu buka kaos kamu dan berbaring di sana”, kata sang dokter sambil menunjuk ke arah tempat tidur yang ada di sudut ruang periksa tersebut.


Saya pun menurut. Setelah menanggalkan kaos oblong, saya membaringkan diri di tempat tidur. Dokter yang ternyata bernama Dokter S itu menghampiri saya dengan berkalungkan stetoskop di lehernya yang jenjang dan putih.
“Kamu pernah menderita penyakit berat? Tipus? Lever atau yang lainnya?” Tanyanya. Saya menggeleng.


“Sekarang coba kamu tarik nafas lalu hembuskan, begitu berulang-ulang ya.” Dengan stetoskopnya, Dokter S memeriksa tubuh saya. Saat stetoskopnya yang dingin itu menyentuh dada saya, seketika itu juga suatu aliran aneh menjalar di tubuh saya. Tanpa saya sadari, saya rasakan, batang kemaluan saya mulai menegang. Saya menjadi gugup, takut kalau Dokter S tahu. Tapi untuk ia tidak memperhatikan gerakan di balik celana saya. Namun setiap sentuhan stetoskopnya, apalagi setelah tangannya menekan-nekan ulu hati saya untuk memeriksa apakah bagian tersebut terasa sakit atau tidak, semakin membuat batang kemaluan saya bertambah tegak lagi, sehingga cukup menonjol di balik celana panjang saya.


“Wah, kenapa kamu ini? Kok itu kamu berdiri? Terangsang saya ya?” Mati deh! Ternyata Dokter S mengetahui apa yang terjadi di selangkangan saya. Aduh! Muka ini rasanya mau ditaruh di mana. Malu sekali!
“Nah, coba kamu lepas celana panjang dan celana dalam kamu. Saya mau periksa kamu menderita hernia atau tidak.” Nah lho! Kok jadi begini?! Tapi saya menurut saja. Saya tanggalkan seluruh celana saya, sehingga saya telanjang bulat di depan Dokter S yang bak bidadari itu.
Gila! Dokter S tertawa melihat batang kemaluan saya yang mengeras itu. Batang kemaluan saya itu memang tidak terlalu panjang dan besar, malah termasuk berukuran kecil. Tetapi jika sudah menegang seperti saat itu, menjadi cukup menonjol.


“Uh, burung kamu biar kecil tapi bisa tegang juga”, kata Dokter S serasa mengelus batang kemaluan saya dengan tangannya yang halus. Wajah saya menjadi bersemu merah dibuatnya, sementara tanpa dapat dicegah lagi, batang kemaluan saya semakin bertambah tegak tersentuh tangan Dokter S. Dokter S masih mengelus-elus dan mengusap-usap batang kemaluan saya itu dari pangkal hingga ujung, juga meremas-remas buah zakar saya.
“Mmm.. Kamu pernah bermain?” Saya menggeleng. Jangankan pernah bermain. Baru kali ini saya telanjang di depan seorang wanita! Mana cantik dan molek lagi!


“Aahh..” Saya mendesah ketika mulut Dokter S mulai mengulum batang kemaluan saya. Lalu dengan lidahnya yang kelihatannya sudah mahir digelitiknya ujung kemaluan saya itu, membuat saya menggerinjal-gerinjal. Seluruh batang kemaluan saya sudah hampir masuk ke dalam mulut Dokter S yang cantik itu. Dengan bertubi-tubi disedot-sedotnya batang kemaluan saya. Terasa geli dan nikmat sekali. Baru kali ini saya merasakan kenikmatan yang tak tertandingi seperti ini.


Dokter S segera melanjutkan permainannya. Ia memasukkan dan mengeluarkan batang kemaluan saya dari dalam mulutnya berulang-ulang. Gesekan-gesekan antara batang kemaluan saya dengan dinding mulutnya yang basah membangkitkan kenikmatan tersendiri bagi saya.
“Auuh.. Aaahh..” Akhirnya saya sudah tidak tahan lagi. Kemaluan saya menyemprotkan cairan kental berwarna putih ke dalam mulut Dokter S. Bagai kehausan, Dokter S meneguk semua cairan kental tersebut sampai habis.
“Duh, masa baru begitu saja kamu udah keluar.” Dokter S meledek saya yang baru bermain oral saja sudah mencapai klimaks.


“Dok.. Saya.. baru pertama kali.. melakukan ini..” jawab saya terengah-engah.
Dokter S tidak menjawab. Ia melepas jas dokternya dan menyampirkannya di gantungan baju di dekat pintu. Kemudian ia menanggalkan kaos oblong yang dikenakannya, juga celana jeans-nya. Mata saya melotot memandangi payudara montoknya yang tampaknya seperti sudah tidak sabar ingin mencelat keluar dari balik BH-nya yang halus. Mata saya serasa mau meloncat keluar sewaktu Dokter S mencopot BH-nya dan melepaskan celana dalamnya. Astaga! Baru sekarang saya pernah melihat payudara sebesar ini. Sungguh besar namun terpelihara dan kencang. Tidak ada tanda-tanda kendor atau lipatan-lipatan lemak di tubuhnya. Demikian pula pantatnya. Masih menggumpal bulat yang montok dan kenyal. Benar-benar tubuh paling sempurna yang pernah saya lihat selama hidup saya. Saya rasakan batang kemaluan saya mulai bangkit kembali menyaksikan pemandangan yang teramat indah ini.


Dokter S kembali menghampiri saya. Ia menyodorkan payudaranya yang menggantung kenyal ke wajah saya. Tanpa mau membuang waktu, saya langsung menerima pemberiannya. Mulut saja langsung menyergap payudara nan indah ini. Sambil menyedot-nyedot puting susunya yang amat tinggi itu, mengingatkan saya waktu saya menyusu pada ibu saya selagi kecil. Dokter S adalah wanita yang kedua yang pernah saya isap-isap payudaranya, tentu saja setelah ibu saya saat saya masih kecil.
“Uuuhh.. Aaah..” Dokter S mendesah-desah tatkala lidah saya menjilat-jilat ujung puting susunya yang begitu tinggi menantang. Saya permainkan puting susu yang memang amat menggiurkan ini dengan bebasnya. Sekali-sekali saya gigit puting susunya itu. Tidak cukup keras memang, namun cukup membuat Dokter S menggelinjang sambil meringis-ringis.
Tak lama kemudian, batang kemaluan saya sudah siap tempur kembali. Saya menarik tangan Dokter S agar ikut naik ke atas tempat tidur. Dokter S memahami apa maksud saya. Ia langsung naik ke atas tubuh saya yang masih berbaring tertelentang di tempat tidur. Perlahan-lahan dengan tubuh sedikit menunduk ia mengarahkan batang kemaluan saya ke liang kewanitaannya yang sekelilingnya ditumbuhi bulu-bulu lebat kehitaman. Lalu dengan cukup keras, setelah batang kemaluan saya masuk satu sentimeter ke dalam liang kewanitaannya, ia menurunkan pantatnya, membuat batang kemaluan saya hampir tertelan seluruhnya di dalam liang senggamanya. Saya melenguh keras dan menggerinjal-gerinjal cukup kencang waktu ujung batang kemaluan saya menyentuh pangkal liang kewanitaan Dokter S. Menyadari bahwa saya mulai terangsang, Dokter S menambah kualitas permainannya. Ia menggerak-gerakkan pantatnya berputar-putar ke kiri ke kanan dan naik turun ke atas ke bawah. Begitu seterusnya berulang-ulang dengan tempo yang semakin lama semakin tinggi. Membuat tubuh saya menjadi meregang merasakan nikmat yang tiada tara.


Saya merasa sudah hampir tidak tahan lagi. Batang kemaluan saya sudah nyaris menyemprotkan cairan kenikmatan lagi. Namun saya mencoba menahannya sekuat tenaga dan mencoba mengimbangi permainan Dokter S yang liar itu. Akhirnya.., “Aaahh.. Ouuhh..” Saya dan Dokter S sama-sama menjerit keras. Kami berdua mencapai klimaks hampir bersamaan. Saya menyemprotkan air mani saya di dalam liang kewanitaan Dokter S yang masih berdenyut-denyut menjepit batang kemaluan saya.
Demikianlah peristiwa yang terjadi siang itu. Dan mau tahu apa hasil medical check up yang istimewa tersebut? Saya dinyatakan sehat secara fisik dan tentu saja secara mental. Apalagi secara birahi. Tentu para pembaca semua tahu maksud saya ini. Dan akhirnya saya berhasil diterima di perusahaan besar itu yang merupakan impian saya sejak lama dan saya berhasil mendapatkan asuransi policy dari AIA sekalian membantu teman saya mendapatkan komisinya. Sayangnya, permainan saya yang menggebu-gebu tersebut dengan Dokter S merupakan pengalaman saya yang pertama sekaligus yang terakhir. Ia sepertinya menghindar apabila saya sengaja datang ke tempat praktek dokternya. Dengan alasan sibuk atau sejuta alasan lainnya, Dokter S selalu menolak menemui saya. Saya tidak tahu mengapa ia bersikap seperti itu. Ah, biar saja!
Baca Selengkapnya »»

Cerita Dewasa : Bidadari dan Uang

Bidadari dan Uang adalah sebuah cerita dewasa yang akan saya tuliskan hari ini. Cerita ini cukup menarik untuk dibaca. inilah ceritanya :



Sedang asyik bermimpi dalam pelukan bintang dan bermain dengan peri-peri kecil, tiba-tiba terdengar suara ketukan yang membangunkan aku dalam gelapnya malam.

Rasa sedikit mengantuk masih ku rasa, waktu saat itu menunjukan pukul dua pagi, lalu ku bergegaslah aku membukakan pintu. Ternyata itu adalah bunda. Bunda memang terbiasa pulang hingga larut seperti ini. Karena Bunda bekerja sebagai cleaning service di suatu hotel.

Di dalam hati aku berkata “Andai saja ayah masih hidup pasti bunda tidak akan bekerja keras, namun mau tidak mau inilah takdir yang aku jalani bersama bunda”.

Oh ya nama ku Vira Sukmawijaya, biasa dipanggil Vira oleh teman-teman di SMA ku, nama Sukmawijaya itu adalah Ayahku. Ayahku adalah seorang pegusaha yang sukses saat beliau masih hidup namun karena terbelit hutang maka semua harta benda telah lenyap dan ayah pun saat itu sakit-sakitan hingga sebuah ajal menjemputnya.

Mungkin hidupku saat kecil sangat terlalu dimanjakan oleh ayah, mau apa saja tinggal tunjuk dan pasti dituruti oleh beliau. Namun kini bundalah yang bekerja untuk menyambung hidup. Banting tulang Bunda membesarkanku dan menyekolahkanku.

Kembali ke aktifitas saat itu hari sudah menujukan pukul 6, saatnya aku untuk berangkat sekolah, namun ku tidak sempat untuk berpamitan lantaran aku tidak tega untuk membangunkan bunda yang tengah dalam keadaan terlelap atau mungkin bunda sedang asyik bermimpi bertemu ayah.

Sesampainya di sekolah seperti biasa Jody menyapaku. Oh ya Jody adalah teman karibku, sejak kecil. Jody banyak membantu dalam urusan biaya sekolahku, Jody itu adalah anak rekan kerja ayah sejak dulu mungkin karena orang tua Jody banyak dibantu oleh ayah lantas kebaikan yang diberikan Jody dan orang tuanya merupakan balas budi. Entah bagaimana aku bisa membayar semua budi baiknya kepada ku dan keluarga ku.

Aku dan Jody kini tengah fokus dalam sebuah kompetisi antar sekolah. Kita berdua terpilih karena kita berdua memiliki prestasi yang bagus di sekolah.

Hari itu Jody mengajak ku toko buku untuk mencari bahan koleksi bacaan buku Jody. Setelah jam sekolah pun berakhir bergegaslah aku dan Jody untuk pergi.

Sesampainya di toko buku, aku dan Jody pun memisahkan diri karena kita memiliki selera bacaan yang berbeda.

Ketika aku berada disebuah stand buku sastra, ada seorang lelaki yang juga ikut membaca disampingku. Secara kebetulan aku pun ingin mengambil sebuah buku dan lelaki itupun juga mengambil buku yang sama.

Lalu dengan rasa malu aku melepas tanganku dari buku tersebut namun pria tersebut justru memberikan buku tersebut. Rasa malu sangat terpancar diraut wajahku.

Setelah ia berikan buku itu kepadaku dan kami saling berdiskusi tentang buku itu dan kamipun saling berkenalan. Jujur saat itu aku kagum denganya karena dia smart dan tampan.

Nama pria itu adalah Dery dia, karena asiknya kami ngobrol aku sampai lupa kalau aku ke toko buku bersama Jody. Dan jody pun menghampiri lalu ku kenalkanlah dia dengan Dery.

Hari sudah petang maka ku dan Jody memutuskan pulang ke rumah. Sepanjang Jody sempat mengatakan kalau Dery itu seperti pria aneh.

Ketika sampai di rumah, Bunda sudah menyambutku. Kebetulan Bunda tidak pulang sampai larut malam jadi aku bisa banyak sharing dengan Bunda.

''Bunda tahu nggak hari ini aku kenal sama cowok pas aku di toko buku tadi, dia tuh ganteng dan pinter banget,'' ucap diriku.

Lalu bunda pun memberiku sebuah nasihat kepada ku.

''Vira, kamu itu sekarang sudah gadis loh! harkat dan martabat mu sebagai wanita itu harus kamu jaga seutuhnya. Jadi memilih teman terutama laki-laki harus hati-hati,'' tegas Bunda.

Lalu aku pun memeluk Bunda dengan eratnya dan selalu mengingat apa yang baru saja diucap oleh bunda.

Semakin hari aku dan Dery semakin akrab, hampir setiap hari Dery selalu menjemputku saat pulang ke sekolah.

Pagi, siang, malam pikiranku hanyalah Dery. Hadirnya Dery seakan membuat hidupku menjadi lebih berwarna.

Cukup lama aku mengenal Dery ternyata timbullah benih-benih cinta diantara kita berdua. Hingga suatu ketika Dery pun menyatakan cinta di suatu tempat yang sekelilingnya dipenuhi lilin dan bunga-bunga indah. Wanita mana yang tak akan senang bila diperlakukan seromantis mungkin.

Tanpa pikir panjang aku pun menerima pernyataan cinta Dery. Ini kali pertama aku memiliki pacar. Namun aku belum berani untuk mengatakan kepada Bunda tentang hubungan ini maka mau tak mau aku harus menjalani backstreet.

Hanya Jody saja yang tahu hubunganku, ku pikir Jody tidak akan senang dengan berita ini namun Jody juga senang dengan kabar tersebut.

Hampir setiap hari Dery menemaniku dan hari-hari ku hanya ku habiskan bersamanya. Suatu ketika aku diajak Dery untuk ikut menghadiri pesta ulang tahun temannya. Karena Bunda sedang bekerja kala itu ia bekerja shift malam.

Aku pergi bersama Dery tanpa sepengetahuan Bunda. Saat itu aku dijemput Dery pukul 9 malam. Sesampainya di tempat di acara yang kita tuju, Dery mengenalkan ku kepada temannya bernama Alex.

Saat ku menginjakan tempat itu aku merasa aneh. Suara musik dan lampu yang gemerlap membuat ku sedikit kurang nyaman.

Ku sempat meminta kepada Dery untuk mengantarkan ku pulang namun Dery menyakinkanku untuk tetap disini.

Dery memberikan ku segelas minuman, entah itu minuman apa. Sepintas rasanya enak, namun lama-lama kelamaan aku pun merasa pusing. Dan disaat ku merasa pusing aku pun Dery memberiku obat.

Dia bilang dengan meminum obat itu pusing ku bisa hilang. Lalu ku minumlah, setelah ku minum efek yang ku rasakan badanku serasa enteng dan terbang.

Ayam jantan pun telah berkokok dan subuh pun tiba, kira-kira pukul 5 pagi aku baru sampai rumah. Aku pulang mungkin masih dalam keadaan mabuk.

Bunda yang sedang beribadah melihat kedatanganku dalam keadaan yang tidak normal. Bunda sangat tertegun sampai-sampai Bunda menangis pun tidak ku hiraukan, justru aku langsung mengurung diri dalam kamar.

Mungkin karena aku dalam keadaan mabuk, aku pun tak tahu apa yang terjadi. Ketika aku bangun Bunda pun sudah mengelus-elus rambut ku.

Lalu pun ia berkata kepadaku tanpa sedikit pun marah.

''Kemanakah kamu semalam nak, sampai setan merasuk tubuh mu saat subuh tadi, Bunda kecewa denganmu'', ucap Bunda sambil memberikan ku air putih.

Aku tak tahu harus jawab apa, karena aku sangat malu begitu perhatian Bunda dengan ku. Meski aku telah berbuat salah. Lantas aku pun menangis dipelukan Bunda.

Langit telah berubah Pergantian tugas bintang yang menerangi malam dengan Matahari, Setelah kejadian kemarin aku tidak masuk sekolah padahal tugas penting membawa nama baik sekolah namun aku tidak bisa hadir karena kejadiaan saat itu.

Setibanya sampai di sekolah, teman-teman ku melihat ku dengan wajah yang menggambarkan kekecewaan saat ku sapa mereka hanya diam dan mempalingkan muka.

Tiba-tiba Jody menarik tangan ku dan berkata mengapa semua teman menjadi sinis kepadaku.

''Kamu liat, wajah teman-teman kita terhadap kehadiran kamu. Mereka sangat kecewa kemana kamu saat perlombaan antar sekolah? Kamu tahukan kita ini partner mewakili sekolah kita. Tapi apa! kamu tidak hadir dan hingga pada akhirny sekolah kita didiskualifikasi,'' dengan marah Jody berkata.

Sumpah ucapan itu membuat aku lebih bersalah, karena kejadian waktu itu hingga membuat aku tidak masuk sekolah padahal aku harus mengikuti lomba antar sekolah malah aku tidak hadir.

Entah bagaimana aku, harus membalikkan keadaan menjadi seperti semula. Hanya dengan kata maaf pun juga tidak bisa membalikan suasana menjadi seperti semula.

Waktu pulang sekolah telah tiba, dan Dery pun menjemputku. Dery mengajak ku ke sebuah kafe untuk menjelaskan semua permasalahan, aku mencoba menolak tapi tidak bisa.

Sepanjang jalan aku ceritakan semua masalah, yang telah terjadi dan ada kepikiran untuk mengakhiri hubungan. Tapi Dery menolaknya, dan Dery pun meminta maaf dan berjanji untuk tidak akan mengulangi.

Sejak kejadian itu aku dan Dery memutuskan untuk long distance, karena aku harus fokus lulus sekolah sedangkan Dery melanjutkan kuliahnya di Bandung. Aku hanya berkomunikasi melalui telepon saja. Karena kita memang terpisah jarak dan waktu.

Setelah aku dinyatakan lulus sekolah, aku pun mendapatkan beasiswa masuk perguruan tinggi di Bandung. Aku sangat senang karena aku bisa meraih prestasi yang membanggakan untuk Bunda dan ini membuat kesempatan bertemu dengan Dery setelah satu tahun lamanya.

Selepas SMA seakan semua memiliki kehidupan masing sejak lulus SMA aku harus kehilangan sahabat karibku Jody yang melanjutkan kuliah di Australia. Banyak kenangan aku dengan dia dan jasanya juga tak akan pernah ku lupakan.

Tinggal jauh dari orang tua memang sangat berat, sebenarnya aku tidak tega meninggalkan Bunda sendirian di rumah namun Bunda telah menyemangati aku untuk menempuh pendidikan agar tercapai semua impianku.

Satu pesan yang diberikan Bunda kepadaku bahwa sebebas apapun anak merpati terbang pasti ia akan mengingat induknya dan setinggi apa pun merpati terbang dia bisa terjatuh karena kesalahannya sendiri.

Hingga di stasiun Kereta api telah membunyikan tanda keberangkatan dengan berat aku harus melepaskan pelukan erat ku dari Bunda.

Tibanya aku di Bandung, aku langsung menuju ketempat kost-an yang direkomendasikan oleh temanku. Tempatnya tidak jauh dari dimana aku kuliah dan biayanya yang murah.

Termenung aku di kota kembang ini “ Ini awal aku menapakan dengan restu seorang ibu yang membuat mental untuk bisa meraih mimpi, bukan sebuah mimpi bila kita hanya tetap melamun dalam kebimbangan. Bumi, Langit, udara dan air beserta isinya akan selalu menjadi bagian hidup yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan.

Tak butuh waktu lama aku mendapatkan teman, namanya Cita, dia adalah teman ku yang ngekost sama denganku. Beberapa hari aku di Bandung, aku pun juga bertemu dengan Dery. Ku ajak Dery ketempat dimana aku tinggal. Tak lupa ku juga mengenalkan dia dengan Cita teman kost ku.

Berbicara tentang Cita, ia bukanlah seorang mahasiswi melainkan dia bekerja. Namun yang ku heran entah dia bekerja dimana karena dia sangat tertutup.

Cita sangat baik dengan ku, dia selalu mentraktirku makan. Lagi-lagi timbul pertanyaan dalam benakku darimana ia bisa mendapatkan duit itu padahal ku jarang sekali melihat pergi bekerja.

Tapi Cita pernah mengajak ku sebuah tempat dimana semua itu adalah wanita-wanita cantik layaknya bidadari. Hingga pada akhirnya aku menyadari bahwa Cita merupakan seorang agency model. Karena aku memiliki fisik yang cantik Cita pun menawarkan ku untuk melakukan pemotretan perdana.

Ku pikir ini sangat menjanjikan sekali, karena ku memiliki fisik yang bagus maka sebuah majalah dewasapun mengontrakku.

Karirku semakin menanjak, dan banyak sekali tawaran pemotretan. Aku pun mendapatkan sebuah fasilitas berupa mobil dan tempat tinggal. Ini membuat mendapatkan segalanya dari profesi ku sehingga aku tidak perlu lagi tinggal di tempat kost.

Karena jadwal yang terlalu padat dan aku tidak bisa bekerja sendiri maka dery pun menjadi manajerku. Foto-foto sudah dimuat diberbagai majalah-majalah dewasa. Dan aku pun sudah semakin akrab dengan lampu blitz kamera.

Semakin menanjak karir ku semakin bebas kehidupan ku karena akau memiliki uang, disatu sisi aku memiliki pacar yang ku pikir dia setia karena Dery pula aku banyak mengenalkan tentang kota Bandung bahkan kehidupan malam di Bandung.

Sebenarnya aku takut dengan tempat seperti itu dan sempat menolak. Karena teringat kejadian waktu itu, namun aku tak bisa menyangkal permintaan Dery karena sebuah ucapan yang menyakinkanku.

Lama-lama kelamaan aku pun semakin akrab dengan dunia malam. Hampir tiap minggu aku mengujungiku.

Aku memang sekali berpergian ke luar kota Bandung dan sempat singgah di Jakarta namun apa daya karena sebuah jadwal yang padat aku tak bisa pulang ke rumah untuk bertemu Bunda.

Sudah hampir satu tahun semenjak aku menjadi model aku tidak kembali ke rumah padahal Jakarta Bandung tidak terlalu Jauh namun sekali lagi ku harus bersikap professional pada tuntutan kerja.

Selama menjadi model, aku selalu mengirimkan uang untuk kehidupan Bunda di Jakarta. Bunda yang kini tinggal bersama Sumi saudara sepupuku yang menemani Bunda sehari-seharinya selalu ku penuhi segala kebutuhannya.

Tiba-tiba aku termenung pada sebuah pepatah yang mengatakan semakin tinggi pohon semakin pula angin kencang yang menerpanya. Itu yang ku rasakan kali ini.

Sudah berapa hari aku tak dapat kabar dari Dery aku telah mencari tahu keberadaan ia. Karena semua uang ku, ku titipkan kepadanya.

Suatu ketika musibah datang kepadaku, dimana aku harus pulang ke Jakarta karena aku mendapatkan kabar bahwa Bunda sakit.

Mendegar kabar tersebut aku langsung seketika berangkat ke Jakarta. Sedikit penyesalan yang terjadi pada diriku, karena selama ini aku hanya sibuk untuk mencari lembaran-lembaran Rupiah.

Yang ada dipikiranku hanya rupiah hingga aku tidak memiliki waktu untuk Bunda. Setelah sampai di rumah sakit pun aku tidak bisa memeluk Bunda karena terkapar lemah tanpa sadar. Yang ada pada saat itu aku hanya bisa berdoa.

Sumi yang menemani ku di rumah sakit, dan Sumi pun menceritakan tentang apa yang menyebabkan hingga Bunda menjadi seperti itu. Sumi mengatakan Bunda mendadak serangan jantung karena melihat sebuah foto ku tanpa sehelai busana.

Entah siapa yang menyebarkan foto, tersebut sejujurnya profesi ku saat itu aku rahasiakan dari Bunda karena bila tahu pasti dia akan menolakku. Foto itu merupakan ulah tangan jahil yang sengaja mengambil gambarku tanpa sepengetahuanku.

Ketika aku mendengar kabar tersebut sentak membuatku sangat menyesal. Ternyata profesi yang ku jalani penuh dengan tantangan bahkan menjatuhkan martabat ku sebagai wanita.

Aku mencoba menelpon Dery untuk mengusut masalah ku ini namun tak ada kabar darinya. Lalu ku lupakan masalahku untuk hingga menunggu Bunda sadar dan pulih dari komanya.

Uang dan uang yang ku pikir semua akan bahagia dengan uang, layaknya bidadari cantik aku berlenggak lenggok dan semua orang melihat ku. Karena aku manusia yang butuh hidup dan uang menjadi prioritas. Tak salah aku berkata kalau aku ini bidadari uang.

Aku yang tertegun dalam doa, aku tenggelam dalam larutnya air mata ketika suster meminta ku untuk masuk ke ruang ICU karena Bunda yang siuman dan ingin berbincang.

Suara alat detak jantung yang menempel di dada Bunda dan selang nafas membuat Bunda berbicara dengan sekuat tenaga.

''Maaf kan Bunda nak, mungkin Bunda sudah gagal dalam mendidik kamu. Maafkan Bunda nak,'' ucap Bunda.

Aku hanya bisa menangis dipelukan Bunda, aku tidak mau Bunda terus menangis. Bunyi suara panjang dari monitor jantung berbunyi lurus dengan gugup pun aku langsung memanggil suster dan dokter.

Namun Tuhan sayang dengan Bunda hingga malaikat telah menjemput Bunda untuk berhenti mengikuti putaran dunia selamanya.

Hancur dan hancur, seakan teriakan dan tangisan ku tak bisa menjadi perminta maafa ku kepada Bunda. Sumi yang memelukku juga larut dalam kesedihan yang menghancurkanku. Taburan bunga yang menghampar di atas nisan Bunda membuat penyesalan, seakan-akan hidupku sudah tak berarti.

Gelap malam dimana hanya ada aku dan kenangan. Aku belum bisa berhenti menangisi kepergian Bunda meski aku harus mencoba untuk ikhlas dan merelakannya.

''Tuhan aku hanya meminta kepadaMu berikan Bunda surgaMu, aku tak tahu mengapa Kau cepat memisahkanku denganya. Padahal aku ingin membahagiakan uang hasil kerja keras yang selama ini ku lakukan untuk Bunda namun semuat jadi tidak berarti. Jika Engkau ingin menghukumku hukumlah aku Tuhan namun mengapa Engkau justru memisahkan ku dengan Bunda,'' berdoa aku sambil membuka foto kenangan indah.

Berapa minggu Bunda yang telah pergi, aku harus kembali ke Bandung untuk menyelesaikan semua masalahku. Tersimpan foto indah kenangan ku dengan Bunda yang selalu ku lihat setiap saat.

Kedatangan ku ke Bandung membuat lengkap penderitaan ku. Karena sibuknya aku di dunia model sehingga banyak waktu kuliah yang jarang ku hadir sehingga aku di DO dari kampus karena aku sudah melanggar ketentuan kampus.

Tidak hanya itu agency model sudah memutus kontrak kerja ku. Karena kasus beredarnya foto-foto syur yang sebenarnya bukan aku yang melakukanya. Dan aku melanggar perjanjian yang ada di kontrak. Lantas semua fasilitas yang telah diberikan dari mobil hingga rumah kini sudah bukan milik ku lagi.

Aku tak tahu apa yang aku lakukan di kota Kembang ini. Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk menginap di tempat Cita.

Sesampainya di kost aku langsung menemui Cita, berharap ia mau mendengarkan keluh kesah ku dan memberikanku sebuah bantuan namun sebelum mengetuk pintu aku mendegar suara yang tidak asing di telingaku.

Ketika aku ketuk pintu ternyata orag yang membukakan pintu untukku adalah Dery, sentak ini mebuat aku terkejut dan tak bisa ku pendam lagi amarahku kepada Dery.

''Jadi beginikah kalian, memanfaatkan segalanya dari keluguan dan kebodohan ku. Sumpah aku tak menyangka kalau kamu tega, kau ambil semua uangku dan kini kalian tertawa di atas penderitaanku. Baik aku nggak akan ganggu kalian berdua sekarang nikmatilah kesenangan kalian berdua,'' teriak aku.

Lengkap semua penderitaan yang telah ku alami, hingga pada titik jenuh aku pun kehilangan arah tak lagi ku kenali mana malam yang bertabur bintang mana matahari yang bertabir senyum. Semua kini telah lenyap.

Merenung aku di sebuah taman kecil tak ada satupun yang ku kenal. Layaknya orang gila akupu menjadi bahan tertawaan anak-anak kecil.

Tapi diantaran kumpulan anak kecil ada satu gadis kecil yang melepaskan ku dari ejekan anak-anak kecil.

''Sudah-sudah pergi kalian semua jangan ganggu kakak cantik itu,'' teriak Tiara nama gadis kecil itu.

Lalu Tiara pun mengajak aku ke tempat dimana ia tinggal yaitu Panti asuhan. Di Panti tersebut aku dikenalkan dengan Ibu Bunga orang yang mengasuh anak-anak Panti.

Ibu Bunga sangat baik hati, wajah ayunya hampir mirip dengan sosok Almarhum Bunda. Ibu Bunga sangat perhatian sekali denganku.

Aku banyak bercerita dengan Ibu Bunga tentang semua keadaan yang telah aku alami. Air mata yang jatuh dari ku langsung dihapusnya dan pelukan hangat Ibu Bunga mengingatkan ku kepada Bunda.

Ibu Bunga meminta kesedianku untuk menetap di panti asuhan ini. Tanpa berpikir panjang aku menerima dengan amat sangat gembira.

Di panti ini aku banyak belajar tentang arti kehidupan dan berbagai masalah. Cinta kasih yang tulus aku abdikan diri ku untuk kehidupan yang penuh cinta.

Kini aku mengerti, aku yang dulu menjadi seorang bidadari yang ternilai oleh uang ternyata semua apa yang ku dapat dan aku raih bukan semata-mata ternilai oleh Rupiah.

Letak surga dunia yang ku raih ternyata bisa ku raih hanya dengan rasa tulus cinta dan sebuah keikhlasan.

Sekarang aku menjadi seorang bidadari yang dikelilingi peri-peri kecil. Menebarkan kebahagian dan senyuman yang tulus.

Cerita oleh: Herjuno Raditiyo
Baca Selengkapnya »»

Gara-gara Kurang Perhatian

Gara-gara Kurang Perhatian adalah tulisan yang akan saya tuliskan di blog cerita dewasa ini. cerita ini mengisahkan tentang kehidupan wanita remaja kota, cerita ini terinspirasi dari beberapa kisah nyata. semoga tulisan ini dapat menambah wawasan kita.

Panggil saja aku “Andin” aku adalah anak yang berasal dari keluarga yang berkecukupan namun semua itu tidak ada guna untukku. Ibuku adalah wanita karier yang sibuk, sedangkan ayah ku juga sibuk, karena itu mereka tidak mempunyai waktu bersama keluarga nya. Kakak ku dan aku sudah sama-sama kuliah, tetapi kakak ku sudah berada di semester akhir dan aku di semester awal. Karena kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orangtuaku, tidak ada yang memperdulikanku mau berbuat apa saja. Kakakku yang jarang pulang karena dia asyik bersama teman-temannya. Begitupun aku, aku mulai pusing di rumah sendirian, mulai pusing karena tidak ada tempatku untuk mengadu.



Awal kisahnya dimulai dari saat aku diajak salah seorang temanku pergi ke tempat hiburan malam, saat itu aku sebenarnya tidak ingin pergi bersamanya, akan tetapi dia memaksa dan mengatakan kepadaku aku akan mendapat kebahagiaan yang selama ini tidak kudapatkan. Berdasarkan apa yang teman ku ceritakan akhirnya aku pergi bersamanya dan kami dugem, minum dan mabuk.

Pada saat itu ada banyak teman-teman prianya yang dikenalkan kepadaku dan lumayan membuatku terpesona... Setelah kami mabuk aku tidak tahu lagi apa yang terjadi, yang masih aku ingat adalah aku dituntun oleh salah seorang temannya tidak tahu kemana. Dan ternyata pagi saat aku bangun aku sangat terkejut saat melihat pria tersebut sudah ada disebelahku, sambil memelukku dan kami tanpa busana.
Aku takut dengan apa yang telah terjadi, aku menangis dia berkata akan bertanggung jawab dengan semua yang ada. Setelah itu kami pun pulang masing-masing dan melanjutkan aktifitas seperti biasa.

Keesokan harinya temanku tadi yang mengenalkan aku dengan pria tersebut menelponku untuk kembali mengajakku ke tempat hiburan malam tersebut lagi. Awalnya aku tidak mau tapi setelah kupikir-pikir ternyata dengan pergi ke sana aku mendapatkan kebahagiaan yang kuinginkan. Kami minum seperti biasa, bernyanyi, mabuk dan lainnya. Aku sangat bahagia.

Lama kelamaan atau tepatnya sebulan lebih aku merasa mual dan ternyata aku hamil, aku memberitahu ke pria yang telah meniduriku dahulu, dan ternyata pria tersebut tidak mau bertanggung jawab dengan apa yang telah dia lakukan kepadaku dan akhirnya aku disuruhnya menggugurkan kandunganku dan kami pun berhasil. Semenjak itu aku pun mulai terbiasa dengan dunia malam yang gemerlapan, minum, tidur dengan pria dan gonta-ganti pasangan.

Aku bosan dengan tempat yang biasanya kami kunjungi dan dengan pria-pria yang itu-itu saja, akhirnya aku dan temanku pergi ke Bali dan menetap di sana beberapa minggu. Di Bali kami menemukan dunia malam yang luar biasa dahsyat, dunia malam yang belum kutemui di Jakarta. Di Bali kami sering bergabung dengan bule-bule dan mereka sangat asyik jika berteman dan menikmati hidup terutama kehidupan malam di Bali.
Di Bali aku bertemu dengan pria asal Australia dan kami menjalin hubungan dan tinggal di satu apartemen miliknya, aku tidak tahu temanku tadi tinggal dimana, yang pasti dia tidak mungkin tinggal di apartemen kami yang kami sewa berdua.

Begitulah ceritaku sampai saat ini aku masih melakukan hal tersebut, aku dan pria Australia tersebut telah putus, dan aku berhubungan kembali dengan pria lain sampai saat ini. Hingga akhirnya dunia malam dan gonta-ganti pasangan sudah tidak asing lagi bagiku.

Sebenarnya aku memahaminya hal ini tidak baik, namun kehidupanku sudah hancur dan akupun tak mengerti hingga saat ini juga mengapa orangtuaku tidak pernah memperdulikanku, mereka sibuk dengan urusan mereka tanpa mengetahui sedikitpun apa dan hal apa yang sudah terjadi pada anaknya. Semoga ini tidak terjadi pada anda atau keluarga anda.
Baca Selengkapnya »»

Cerita Sex - Bercinta Dengan Ratna Di Mess Kantoran

 
Cerita Sex - Bercinta Dengan Ratna Di Mess Kantoran - Cerita ini terjadi sekitar satu setengah tahun yang lalu. Nama saya Anton (bukan nama sebenarnya) dan bekerja di sebuah perusahaan nasional di Jakarta. Saya mengepalai bagian penjualan, dan otomatis saya sering pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan, apalagi bila ada peluncuran produk baru. Sekitar satu setengah tahun yang lalu, saya ditugaskan ke Manado. Di sana kebetulan perusahaan kami mempunyai mess yang biasa digunakan oleh tamu-tamu yang datang dari kota lain. Mess-nya sendiri cukup besar, dan di halaman belakang ada kolam renangnya.
Selama di Manado saya ditemani oleh Ratna (nama samaran) yang juga mengepalai bagian penjualan di sana. Sebagai gambaran, Ratna tingginya sekitar 165 cm, berat sekitar 54-55 kg dan kulitnya putih mulus. Umurnya sekitar 28 tahun, dan menurut saya orangnya sangat menarik (baik dari segi fisik maupun personality). Beberapa hari di sana, kami pergi mengunjungi beberapa distributor di Manado, dan Ratna juga sempat mengajak saya jalan-jalan seperti ke danau Tondano ditemani beberapa rekan kantor lainnya.

Hubungan saya dengan Ratna menjadi cukup dekat, karena kami banyak menghabiskan waktu berdua walaupun sebagian besar adalah urusan kantor. Ratna sangat baik pada saya, dan dari tingkah lakunya saya dapat merasakan kalau Ratna suka pada saya. Pertama-tama saya pikir kalau mungkin itu hanya perasaan saya saja. Walaupun dalam hati saya juga suka dengan dia, saya tidak berani untuk mengatakan atau memberi tanda-tanda kepada dia. Toh, saya baru beberapa hari kenal dengan dia dan memang untuk urusan wanita saya tergolong pemalu. Bagaimana kalau dia ternyata tidak ada perasaan apa-apa ke saya? Wah, bisa hancur hubungan baik yang telah saya bina dengan dia beberapa hari itu.

Suatu sore setelah pulang kerja, Ratna seperti biasa mengantar saya pulang ke mess. Saya menanyakan apakah dia mau mampir dulu sebelum pulang. Ratna setuju dan masuk ke dalam mess bersama saya. Kami ngobrol-ngobrol sebentar, dan saya ajak Ratna ke halaman belakang untuk duduk di kursi panjang dekat kolam renang. Kolam renangnya sangat menggoda, dan saya tanya Ratna apakah dia mau menemani saya berenang. Dia bilang kalau sebenarnya dia mau, tapi tidak bawa baju renang dan baju ganti sama sekali. Saya menawarkan untuk memakai celana pendek dan kaos saya.

“Nanti sekalian mandi di sini saja sebelum kita pergi makan malam..” kata saya.

Ratna setuju dan saya ke kamar untuk mengambil kaos dan celana pendek untuk dipinjamkan ke Ratna. Saya sendiri juga berganti pakaian dan mengenakan celana pendek saya yang lain.

Setelah berganti pakaian, kami pun berenang bersama. Karena baju kaos yang saya pinjamkan berwarna putih dan bahannya cukup tipis, buah dada Ratna yang ukurannya di atas rata-rata tercetak cukup jelas walaupun dia masih memakai bra. Kami berenang sekitar 20 menit, dan setelah selesai saya pinjamkan Ratna handuk untuk mandi di kamar saya yang kebetulan lebih bersih dari kamar mandi yang ada di ruang depan. Saya sendiri mandi di ruang depan.

Begitu selesai mandi, saya ke kamar saya untuk melihat apakah Ratna sudah selesai atau belum. Ternyata Ratna masih di kamar mandi, dan beberapa menit kemudian keluar dengan hanya memakai handuk yang dililitkan di badannya. Handuk yang saya pinjamkan tidak terlalu besar, sehingga hanya mampu menutupi sebagian buah dada dan sedikit pahanya. Belahan dadanya terlihat jelas dan mungkin sedikit lebih turun lagi putingnya akan terlihat. Dengan rambut yang masih basah, Ratna terlihat sangat seksi.

Ratna berdiri di depan pintu kamar mandi dan bilang kalau dia harus mengeringkan bra dan CD-nya yang masih basah. Waktu Ratna mengangkat kedua tangannya untuk menyibakkan rambutnya, handuknya terangkat dan kemaluannya terlihat. Saya tidak tahu apakah Ratna sadar atau tidak kalau handuknya terlalu pendek dan tidak dapat menutupi kemaluannya. Rambut kemaluan Ratna lumayan lebat.

Ratna kemudian duduk di ranjang saya dan menanyakan apakah dia boleh menunggu sebentar di kamar saya sampai pakaian dalamnya kering. Tentu saja saya membolehkan, dan setelah mengobrol beberapa saat, Ratna menyandarkan badannya ke sandaran ranjang dan menjulurkan kakinya ke depan. Kakinya yang panjang terlihat mulus. Melihat itu semua, kemaluan saya mulai menegang.

Saya tanya dia, “Sambil nunggu celana kamu kering, mau aku pijitin nggak..?”

“Mau dong, asal enak yah pijitannya..”

Saya minta dia membalikkan badannya, dan saya mulai memijati kakinya. Beberapa saat kemudian saya mulai memberanikan diri untuk naik dan memijat pahanya. Ratna sangat menikmati pijatan saya dan sepertinya dia juga sudah mulai terangsang. Hal ini terbukti dengan dibukanya kedua kakinya, sehingga kemaluannya terlihat dari belakang, walaupun tubuhnya masih dibalut handuk.

Saya pun mulai memijat pahanya bagian dalam, dan terus naik sampai ke selangkangannya. Ratna diam saja, dan saya memberanikan untuk mengelus kemaluannya dari belakang. Juga tidak ada reaksi selain desah nafas Ratna tanda bahwa dia sudah terangsang dan menikmati apa yang saya lakukan.

“Ratna, buka yah handuknya biar lebih mudah..” kata saya.

Tanpa diminta lagi, Ratna membalikkan badannya dan melepaskan handuknya, sehingga tubuhnya sekarang telanjang bulat di depan saya. Buah dada Ratna ternyata lumayan besar dan sangat indah. Ukurannya mungkin 36C dan putingnya berwarna kemerahan.

“Ton, buka dong celana pendek kamu..!” pintanya.

Saya berdiri dan melepaskan celana yang saya kenakan. Kemaluan saya sudah sangat menegang dan saya pun naik ke ranjang dan tiduran di sebelah Ratna.

“Kamu diam saja di ranjang, biar aku yang buat kamu senang..,” katanya.

Saya pun tidur telentang, dan Ratna naik ke badan saya dan mulai menciumi saya dengan penuh nafsu.

Beberapa menit kemudian ciumannya dilepaskan, dan dia mulai menjilati badan saya dari leher, dada dan turun ke selangkangan saya. Ratna belum menjilati kemaluan saya dan hanya menjilati selangkangan dan paha saya sebelah dalam. Saya sangat terangsang dan meminta Ratna untuk memasukkan kemaluan saya ke dalam mulutnya. Ratna mulai menjilati kemaluan saya, dan sesaat kemudian memasukkan kemaluan saya ke dalam mulutnya. Ternyata Ratna sudah sangat ahli. Pasti dia sudah sering melakukannya dengan bekas pacarnya, pikir saya. Memang sebelum itu Ratna pernah berpacaran dengan beberapa pria. Saya sendiri saat itu masih perjaka. Saya memang juga pernah berpacaran waktu kuliah, tetapi pacaran kami hanya sebatas heavy petting saja, dan kami belum pernah benar-benar melakukan hubungan seks.

Saya minta Ratna untuk membuat posisi 69, sehingga selangkangannya sekarang persis di depan hadapan wajah saya. Sambil Ratna terus mengulum dan menjilati kemaluan saya, saya sendiri juga mulai menjilati kemaluannya. Ternyata kemaluannya berbau harum karena dia baru saja selesai mandi. Rambut kemaluannya juga lebat, sehingga saya perlu menyibakkannya terlebih dahulu sebelum dapat menjilati klitorisnya. Kami saling melakukan oral seks selama beberapa menit, dan setelah itu saya minta Ratna untuk tiduran. Dia merebahkan badannya di ranjang, dan saya mulai menjilati buah dada dan putingnya.

Ratna sudah sangat terangsang, “Hmm.. hmm.. terus Ton.. terus..!”

Saya terus menjilati tubuhnya sampai ke kemaluannya. Rambut kemaluannya saya sibakkan dan saya jilati bibir kemaluan dan klitorisnya. Cairan kemaluannya terasa di lidah saya. Tubuh Ratna menggelinjang hebat dan pantatnya diangkat seolah-olah ingin saya menjilatinya lebih dalam lagi. Tangannya menekan kepala saya sampai hampir seluruh wajah saya terbenam di kemaluannya. Saya semakin bersemangat memainkan ujung lidah saya yang menyapu kemaluan Ratna, dan kadang-kadang saya gigit perlahan klitorisnya.

Ratna benar-benar menikmati apa yang saya lakukan, dan semakin membuka pahanya lebar-lebar. Dia terus menekan kepala saya dan menaik-turunkan pinggulnya.

“Ah.. ah.. ah.. I’m coming, I’m coming..!” teriaknya.

Saya terus menjilati klitorisnya dengan lebih cepat, dan sesaat kemudian dia berteriak, “Ahh.. Ahh.. Ahh..” tanda kalau dia sudah orgasme.

Kemaluannya sudah sangat basah oleh cairan kemaluannya.

Ratna melenguh sebentar dan berkata, “Ton, masukin dong, saya mau nih..!”

Saya bilang kalau saya belum pernah melakukan ini, dan takut kalau dia hamil.

“Jangan takut, saya baru saja selesai mens kok, jadi pasti nggak bakalan hamil..”

“Kamu di atas yah..!” kata saya.

“Ya udah, tiduran sana..!”

Saya tiduran dan Ratna duduk di atas saya dan mulai memasukkan kemaluan saya ke vaginanya dengan perlahan. Wah, nikmat sekali.. ternyata begitu rasanya berhubungan seks yang sesungguhnya. Ratna mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya dan kedua tangannya diangkat ke atas. Saya memegang kedua buah dadanya sambil Ratna terus bergoyang, makin lama makin cepat.

Beberapa saat kemudian saya sudah tidak tahan lagi dan ejakulasi sambil memeluk tubuh Ratna erat-erat. Belum pernah saya merasakan kenikmatan seperti itu. Kami pun berciuman dan kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan badan yang penuh dengan keringat. Di kamar mandi saya menyabuni tubuh Ratna dari atas ke bawah, dan hal yang sama juga dia lakukan ke saya. Khusus untuk kemaluannya, saya memberikan perhatian khusus dan dengan lembut menyabuni klitorisnya dan memasukkan jari saya untuk membersihkan vaginanya yang basah oleh air mani saya. Kelihatan kalau Ratna sangat menikmati itu, dan kakinya pun dibuka lebar-lebar.

Selesai mandi, kami kembali ke kamar dan membicarakan apa yang baru kami lakukan. Terus terang saya tidak pernah berpikir untuk melakukan hubungan seks dengan Ratna secepat itu, karena kami belum lama kenal dan semuanya juga terjadi dengan tiba-tiba. Ratna bilang kalau sebenarnya dia suka dengan saya dari awal, dan memang sudah mengharapkan untuk dapat melakukan ini dengan saya.

Setelah kejadian itu, kami beberapa kali melakukan hubungan seks di mess sepulang dari kantor. Karena di mess tidak ada pembantu (pembantu hanya datang di pagi hari untuk membersihkan rumah atau mencuci baju), kami bebas melakukannya di luar kamar baik di ruang tamu, halaman belakang dan juga kolam renang. Benar-benar beberapa hari yang tidak dapat saya lupakan. Sayang hubungan kami tidak berlanjut setelah saya kembali ke Jakarta karena jarak yang memisahkan kami.

Sebenarnya saya pernah minta Ratna untuk pindah kerja ke Jakarta, tapi dia tidak mau dengan alasan orang tuanya tidak mengijinkan, karena dia anak satu-satunya. Juga mungkin bagi Ratna saya hanyalah salah satu pria yang lewat dalam hidupnya.
Baca Selengkapnya »»